Kinerja industri kelapa sawit di Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif pada Februari 2026. Peningkatan terlihat jelas pada volume produksi, angka konsumsi dalam negeri, hingga aktivitas pengiriman ke pasar luar negeri.
Dilansir dari Money, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan produksi minyak sawit mentah (CPO) mencapai 5,015 juta ton. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan capaian Januari 2026 yang sebesar 4,778 juta ton.
Kenaikan juga terjadi pada minyak inti sawit (PKO). Jika diakumulasikan, total produksi CPO dan PKO pada Februari 2026 menyentuh angka 5,495 juta ton, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 5,232 juta ton.
Permintaan dari pasar domestik turut mengalami tren penguatan. Total konsumsi minyak sawit di dalam negeri pada Februari 2026 tercatat sebesar 2,305 juta ton, meningkat dari posisi Januari yang sebesar 2,105 juta ton.
Sektor pangan menjadi pendorong utama dalam kenaikan penyerapan di dalam negeri. Penggunaan sawit untuk kebutuhan bahan pangan tercatat tumbuh cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya.
Selain itu, sektor energi melalui penggunaan biodiesel juga menunjukkan tren serupa. Sementara itu, penyerapan untuk industri oleokimia dilaporkan cenderung stabil tanpa ada perubahan besar dibanding bulan lalu.
Kinerja Ekspor dan Nilai Perdagangan Global
Di pasar internasional, pengiriman produk sawit Indonesia juga membukukan rapor hijau. Volume ekspor secara keseluruhan mencapai 3,297 juta ton, mengalami kenaikan dari posisi Januari yang sebesar 3,081 juta ton.
Pertumbuhan ekspor ini mencakup hampir seluruh varian produk, mulai dari CPO, produk olahan, hingga oleokimia. Secara kumulatif, total ekspor periode Januari-Februari 2026 telah menembus 6,378 juta ton.
Dari aspek nilai, perdagangan luar negeri ini menghasilkan devisa sebesar 3,69 miliar dollar AS pada Februari 2026. Angka tersebut melampaui perolehan Januari yang senilai 3,36 miliar dollar AS.
"Nilai ekspor produk sawit bulan Februari meningkat dari 3,36 miliar dollar AS di bulan Januari menjadi 3,69 miliar dollar AS atau naik 9,70 persen," kata Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono.
Menurut penuturan Mukti Sardjono, kenaikan nilai ekspor ini tidak hanya dipicu oleh volume yang bertambah, tetapi juga dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas global yang lebih baik.
"Harga rata-rata JanuariÔÇôFebruari 2026 mencapai 1.306 dollar AS per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 1.218 dollar AS per ton," ujarnya.
Penyusutan Stok Akibat Penyerapan Tinggi
Meskipun angka produksi mengalami kenaikan, persediaan atau stok minyak sawit nasional justru menunjukkan penurunan. Pada akhir Februari 2026, posisi stok berada di angka 2,026 juta ton.
Jumlah stok tersebut lebih rendah dibandingkan akhir Januari 2026 yang masih bertahan di level 2,068 juta ton. Kondisi ini mencerminkan tingginya daya serap pasar baik secara lokal maupun global.
Secara kumulatif selama dua bulan pertama 2026, total produksi mencapai 10,737 juta ton. Namun, beban konsumsi domestik sebesar 4,409 juta ton dan ekspor 6,378 juta ton membuat stok akhir menyusut.
Dinamika ini memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan dan penggunaan energi berbasis sawit tetap agresif. Permintaan yang kuat dari China, India, hingga Eropa menjadi pilar utama terjaganya kinerja industri sawit nasional.