Struktur produksi pangan nasional di Indonesia saat ini masih menghadapi kendala serius akibat konsentrasi wilayah produksi yang terpusat di Pulau Jawa. Masalah ini berdampak langsung pada ketidakstabilan pasokan serta fluktuasi harga komoditas pokok di pasar domestik.
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, memberikan penjelasan mengenai dominasi wilayah barat dalam ketersediaan pangan pada Senin (27/4/2026). Dilansir dari Suara, data menunjukkan bahwa lebih dari separuh produksi padi nasional masih bergantung pada lahan di Pulau Jawa.
"Produksi pangan terpusat, terutama di Jawa. Pangsa produksi padi dari Jawa pada 2024 sebesar 54,2 persen," kata Khudori, Pengamat Pertanian AEPI.
Ketergantungan terhadap Pulau Jawa tidak terbatas pada komoditas padi semata, melainkan mencakup berbagai produk pangan strategis dan sektor peternakan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
"Jawa juga pusat produksi jagung, kedelai, gula, daging ayam, telur, hingga bawang merah dan cabai," ujarnya Khudori, Pengamat Pertanian AEPI.
Khudori juga menekankan bahwa tantangan sektor pertanian kian berat karena pola produksi yang masih sangat terikat pada siklus pergantian musim. Hal ini memicu ketidakpastian volume barang yang beredar di pasar pada waktu-waktu tertentu.
"Produksi pangan bersifat musiman. Misalnya produksi padi tertinggi terjadi saat panen raya Februari sampai Mei," jelas Khudori, Pengamat Pertanian AEPI.
Setelah melewati masa panen raya, kapasitas produksi biasanya akan menyusut secara bertahap hingga memasuki fase kritis ketersediaan stok di akhir tahun hingga awal tahun berikutnya.
"Setelah itu masuk musim gadu dan kemudian paceklik pada Oktober sampai Januari," kata Khudori, Pengamat Pertanian AEPI.
Ketimpangan ini juga terlihat dari jumlah provinsi yang mampu menghasilkan surplus pangan, di mana sebagian besar wilayah lain justru mengalami kekurangan pasokan secara kronis.
"Surplus beras hanya ada pada sekitar 13 sampai 14 provinsi, sisanya minus," ujarnya Khudori, Pengamat Pertanian AEPI.
Secara keseluruhan, sebaran produksi pangan memperlihatkan jurang yang lebar antara wilayah barat dan timur Indonesia yang membutuhkan penanganan sistemik segera.
"Pendek kata, surplus produksi pangan berada di wilayah barat Indonesia, sedangkan wilayah timur minus," jelas Khudori, Pengamat Pertanian AEPI.
Guna mengatasi persoalan distribusi ini, penguatan infrastruktur logistik dan manajemen stok nasional menjadi langkah mutlak yang harus diambil pemerintah untuk menjamin pemerataan pangan.
"Ini menuntut hadirnya manajemen stok dan logistik yang handal yang menjamin kualitas dan kepastian pasokan," pungkas Khudori, Pengamat Pertanian AEPI.