Tekanan besar yang melanda pasar keuangan domestik dinilai mencerminkan kenaikan premi risiko investasi di Indonesia. Kondisi tersebut memicu pelemahan signifikan pada berbagai instrumen investasi di dalam negeri.
Dikutip dari Investasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan sebesar 3,08% atau berkurang 202,97 poin ke posisi 6.396,26 pada perdagangan sesi pertama, Selasa (19/5/2026). Penurunan IHSG bahkan sempat menyentuh angka 4% pada perdagangan sesi kedua.
Selain pasar saham, yield Surat Berharga Negara (SBN) untuk tenor acuan 10 tahun ikut merangkak naik hingga mencapai level 6,8%. Pergerakan ini mendorong kenaikan credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun ke angka 89,53 bps pada hari ini (19/5/2026).
Mata uang rupiah juga terus mengalami depresiasi yang menunjukkan bahwa para investor mulai meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi untuk aset di Indonesia. Pada pukul 14.16 WIB, rupiah terkoreksi 0,35% dalam sehari dan menembus level Rp 17.730 per dolar AS.
Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo memaparkan bahwa kombinasi dari pergerakan berbagai indikator tersebut menjadi indikasi kuat bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia sedang mengalami peningkatan.
Faktor eksternal seperti penguatan mata uang dolar AS, lonjakan harga energi, serta meluasnya sikap risk-off investor akibat ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama dari luar negeri. Sementara dari faktor domestik, pelaku pasar sedang mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah.
Fokus perhatian tertuju pada potensi membengkaknya subsidi energi di tengah tingginya harga minyak dunia, meningkatnya kebutuhan pembiayaan, serta tantangan dalam penerimaan negara.
"Yield SBN yang tinggi juga dapat meningkatkan beban bunga dan rasio pembayaran utang, sehingga biaya pembiayaan pemerintah menjadi lebih mahal," kata Banjaran kepada Kontan, Senin (18/5/2026).Banjaran menilai pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memberikan tekanan lanjutan pada pasar saham dan obligasi, baik melalui jalur investasi portofolio maupun kinerja fundamental dari para emiten.
Pada pasar portofolio, investor asing menghitung tingkat imbal hasil mereka menggunakan denominasi dolar AS. Oleh sebab itu, depresiasi rupiah dapat mengikis daya tarik dari aset domestik jika tidak disertai dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.
Dampak penurunan rupiah pada pasar saham diperkirakan akan bervariasi pada setiap sektor. Emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor atau mempunyai beban utang valas yang besar menjadi sektor yang paling rentan terhadap kenaikan biaya serta tekanan margin.
Kondisi berbeda dialami oleh perusahaan yang berbasis komoditas atau berorientasi ekspor karena cenderung lebih terlindungi dari dampak pelemahan mata uang.
Sementara di pasar obligasi, depresiasi nilai tukar rupiah berisiko menaikkan premi risiko yang diminta oleh para investor. Hal tersebut berpotensi membuat yield SBN bertahan di level yang tinggi.
Sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar, Banjaran berpendapat bahwa peningkatan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dapat menopang daya tarik aset rupiah. Namun, strategi ini harus diterapkan secara cermat agar tidak menyerap likuiditas terlalu besar dan menghambat penyaluran kredit.
Penurunan cadangan devisa juga menjadi sorotan karena mencerminkan tingginya kebutuhan untuk stabilisasi pasar. Sepanjang periode Desember 2025 hingga April 2026, cadangan devisa dilaporkan menyusut dengan rata-rata sekitar US$ 2,77 miliar per bulan.
"Angka tersebut menunjukkan kebutuhan stabilisasi yang meningkat di tengah kondisi pasar yang lebih volatil," ujarnya.Ke depan, pergerakan rupiah dinilai masih memiliki peluang untuk menguat kembali dengan syarat ketegangan geopolitik mulai mereda, harga energi mengalami penurunan, serta munculnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral AS.
Stabilitas mata uang domestik juga dapat didukung oleh penguatan persepsi fiskal lewat penerapan disiplin APBN serta optimalisasi pada sektor penerimaan negara. Meski demikian, tekanan dinilai masih bisa berlanjut selama sentimen global tetap berada dalam kondisi risk-off dan aliran modal asing yang keluar belum mereda.
"Sentimen utama yang perlu dicermati mencakup eskalasi geopolitik, arah yield UST dan kebijakan The Fed, pergerakan harga minyak, arus investor asing di SBN, realisasi fiskal termasuk subsidi energi, serta konsistensi komunikasi kebijakan," pungkasnya.