Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah pada kisaran Rp17.380 hingga Rp17.420 pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Pergerakan ini terjadi setelah mata uang Garuda sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,22 persen ke posisi Rp17.372 sebelumnya.
Data dari RTI Infokom yang dilansir dari Market menunjukkan bahwa selama sesi perdagangan terakhir, rupiah bergerak pada rentang harga yang cukup lebar. Mata uang domestik sempat menyentuh level tertinggi pada Rp17.411, sementara titik terendahnya berada di level Rp17.358.
Tren penguatan tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga merambah ke sejumlah mata uang utama di kawasan Asia lainnya. Yen Jepang memimpin kenaikan dengan 1,06 persen, diikuti won Korea sebesar 1,41 persen, baht Thailand 0,62 persen, dolar Singapura 0,35 persen, serta yuan China yang naik 0,19 persen.
| Mata Uang | Persentase Kenaikan |
|---|---|
| Won Korea | 1,41% |
| Yen Jepang | 1,06% |
| Baht Thailand | 0,62% |
| Dolar Singapura | 0,35% |
| Rupiah Indonesia | 0,22% |
| Yuan China | 0,19% |
Kondisi pasar global saat ini dipengaruhi oleh sentimen positif terhadap potensi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz memicu pelemahan dolar AS.
Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai angka 5,61 persen dinilai sebagai sinyal penguatan tren ekonomi nasional. Namun, Ibrahim mencatat adanya ketidaksesuaian antara data fundamental tersebut dengan respons para investor di pasar modal saat ini.
"Percepatan ini belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku pasar, yang justru masih menunjukkan kekhawatiran dan cenderung menarik dana dari pasar modal," kata Ibrahim, Direktur Traze Andalan Futures.
Pemerintah juga dilaporkan tengah memformulasikan kebijakan stimulus tambahan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ibrahim mengharapkan langkah strategis pemerintah ini dapat mempercepat akselerasi pertumbuhan serta memulihkan kepercayaan para pelaku pasar dalam waktu dekat.