Purbaya Yudhi Sadewa Prediksi Konflik AS dan Iran Berakhir September 2026

Purbaya Yudhi Sadewa Prediksi Konflik AS dan Iran Berakhir September 2026
Foto: Ilustrasi Purbaya Yudhi Sadewa Prediksi Konflik AS dan Iran Berakhir September 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan proyeksi mengenai ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang diperkirakan bakal mereda pada September 2026 mendatang.

Dilansir dari Suara, perkiraan tersebut didasarkan pada momentum politik di Amerika Serikat yang akan menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) pada November 2026.

Purbaya menilai pergantian kepemimpinan dari Presiden Donald Trump menjadi salah satu faktor penentu berakhirnya konflik yang telah memicu gejolak pada harga minyak mentah global tersebut.

"Paling jelek itu September. Paling bagus September itu berakhir, karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat," kata Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta.

Meskipun memiliki prediksi optimis, pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan konflik di Timur Tengah tersebut berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.

Langkah penghematan mulai disiapkan oleh Kementerian Keuangan guna mengantisipasi dampak berkelanjutan dari gangguan keamanan di kawasan Selat Hormuz.

"Tapi bisa aja jalan berlanjut terus, jadi kita akan monitor terus. Tapi dalam jangka beberapa bulan ke depan ini saya akan menghemat itu," lanjutnya.

Guna merespons kondisi pasar energi global, pemerintah memutuskan untuk menyalurkan subsidi bagi kendaraan listrik sebagai langkah mitigasi beban impor bahan bakar.

Kebijakan ini diambil setelah Purbaya melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat dan menyimpulkan bahwa tren harga minyak dunia sulit untuk turun dalam waktu dekat.

"Karena kita lihat harga minyak dunia enggak akan turun," ucapnya.

Analisis Kemenkeu menunjukkan bahwa draf perjanjian yang ada saat ini antara Amerika Serikat dan Iran masih timpang, sehingga potensi penolakan dari pihak Iran tetap tinggi.

Situasi diplomasi yang buntu ini diprediksi akan membuat penutupan Selat Hormuz terus berlanjut dan membebani jalur distribusi energi internasional.

"Jadi kelihatannya itu perangnya masih panjang. Artinya, konsumsi BBM kita juga kan masih tinggi, dan dengan harga yang lebih tinggi. Jadi kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan, kan," paparnya.

Optimalisasi Pasokan Listrik PLN

Selain menekan ketergantungan pada impor BBM, transisi ke kendaraan listrik bertujuan untuk memanfaatkan kelebihan kapasitas produksi listrik milik PT PLN (Persero).

Purbaya mengungkapkan bahwa saat ini masih terdapat porsi pasokan listrik yang sudah dibayar oleh pemerintah namun belum terserap secara maksimal oleh konsumen.

"Itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70 persen, masih ada 30 persen listrik yang kita bayar tapi enggak dipakai. Kalau saya enggak salah ingat ya. Tapi yang jelas ada listrik yang terpakai yang kita bayar, saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil. Itu utamanya," jelas Purbaya.

Artikel terkait

Rekomendasi