Pakar komoditas memprediksi harga emas akan menghadapi koreksi jangka pendek akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan melambatnya momentum pembelian oleh bank sentral. Proyeksi penurunan harga logam mulia tersebut diperkirakan bersifat sementara sebelum kembali menguat dalam jangka panjang.
Koreksi nilai komoditas ini dilansir dari Investor Daily melalui laporan Mining pada Kamis (21/5/2026). Pergerakan pasar mencatat harga logam mulia sempat menurun ke level US$ 4.500 per troy ounce pada Selasa (19/5/2026) sebelum menguat tipis 0,1 persen ke angka US$ 4.548,07 per troy ounce pada Rabu (20/5/2026).
Wakil Ketua Eksekutif Abaxx Markets sekaligus Penasihat Senior di The Carlyle Group, Jeffrey Currie memproyeksikan penurunan harga emas dapat menyentuh level US$ 4.000 per troy ounce. Namun, ia optimistis harga komoditas tersebut kemudian berpotensi melonjak hingga menuju US$ 10.000 per troy ounce karena prospek jangka panjang yang tetap kokoh.
"Ketika bank sentral marginal beralih dari pembeli struktural menjadi penjual paksa untuk membayar energi, penawaran terbesar untuk emas menghilang," kata Currie.
Tekanan jual yang dihadapi emas saat ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik geopolitik. Meski demikian, Currie menegaskan pandangan jangka panjangnya terhadap pergerakan instrumen investasi ini tetap positif.
"Begitu bank sentral menjadi lebih lunak setelah krisis energi memukul pertumbuhan, perdagangan akan kembali normal dan saya akan kembali memegang posisi beli," ungkap Currie.