Harga emas dunia diproyeksikan melesat hingga menembus level US$5.400 per troy ounce pada kuartal II/2026 akibat memanasnya tensi geopolitik global. Dilansir dari Market, penguatan ini diperkirakan akan mendorong harga logam mulia domestik menyentuh angka Rp3,3 juta per gram pada periode yang sama.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa fluktuasi harga saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi politik internasional. Ia menyoroti lima faktor utama yakni geopolitik, perpolitikan Amerika Serikat, perang dagang, kebijakan bank sentral, serta permintaan dan penawaran pasar.
ÔÇ£Kuartal kedua kemungkinan besar emas dunia itu bisa mencapai US$5.400 per troy ounce. Kemudian, untuk logam mulianya di angka Rp3,3 juta per gram,ÔÇØ ujar Ibrahim kepada awak media, Minggu (3/5/2026).
Penjelasan tersebut merujuk pada analisis teknikal yang menunjukkan peluang besar bagi emas untuk terbang tinggi dari posisi saat ini. Ibrahim menambahkan bahwa faktor geopolitik memegang peranan krusial karena menyumbang pengaruh hingga 50 persen terhadap pergerakan harga instrumen aset aman ini.
Kenaikan signifikan di masa depan disebut bakal dipicu oleh potensi meluasnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang melibatkan blokade jalur maritim strategis seperti Selat Hormuz menjadi katalis utama ketidakstabilan pasar energi dan komoditas.
ÔÇ£Perang yang terjadi nanti antara Amerika dengan Iran ini yang akan membongkar harga emas dunia itu terbang,ÔÇØ kata Ibrahim.
Meskipun memiliki prospek penguatan tajam, harga emas dunia saat ini terpantau sedang mengalami koreksi teknis dan ditutup pada level US$4.616 per troy ounce. Jika tren penurunan berlanjut, emas dunia diprediksi akan menguji level support pertama pada angka US$4.520 dan support kedua di US$4.389 per troy ounce.
Kondisi pasar global tersebut berdampak pada harga logam mulia fisik di dalam negeri yang kini berada di posisi Rp2,79 juta per gram. Ibrahim menilai level support terdekat domestik berada di angka Rp2,78 juta dengan potensi koreksi hingga Rp2,75 juta per gram dalam kurun waktu sepekan ke depan.
Situasi pelemahan harga dalam jangka pendek ini dipandang sebagai momentum strategis bagi para investor untuk melakukan akumulasi aset. Masyarakat maupun pengusaha disarankan memanfaatkan penurunan harga sebagai kesempatan untuk kembali mengoleksi logam mulia sebelum lonjakan harga terjadi pada kuartal kedua.