Maskapai Japan Airlines (JAL) kembali menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik setelah terlibat skandal konsumsi alkohol oleh karyawannya. Kali ini, dua pramugari terpaksa dibebastugaskan karena melanggar aturan internal perusahaan.
Insiden tersebut berdampak langsung pada operasional penerbangan domestik yang mengalami penundaan. Hal ini menjadi sorotan tajam karena JAL baru saja meraih predikat sebagai salah satu maskapai terbaik dunia tahun 2026.
Kejadian memalukan ini merupakan pukulan telak bagi manajemen JAL di mata otoritas penerbangan. Saat ini, maskapai tersebut sedang berada dalam pengawasan ketat oleh Kementerian Transportasi Jepang akibat rentetan kasus serupa yang berulang kali terjadi.
Kronologi Pelanggaran Aturan Alkohol
Peristiwa bermula saat kedua awak kabin tersebut bertugas dalam penerbangan menuju Hiroshima pada 22 Mei 2026. Salah satu dari mereka diketahui menjabat sebagai kepala pramugari atau chief purser.
Setibanya di lokasi tujuan, keduanya dilaporkan mengonsumsi minuman beralkohol di hotel tempat mereka menginap. Aktivitas santai tersebut ternyata melanggar regulasi ketat yang telah ditetapkan oleh pihak manajemen maskapai.
Berikut adalah ringkasan aturan resmi konsumsi alkohol bagi karyawan Japan Airlines:
- Batas waktu terakhir mengonsumsi alkohol adalah 12 jam sebelum jadwal dinas terbang dimulai.
- Jumlah minuman yang diizinkan maksimal hanya empat takaran standar untuk memastikan kesiapan fisik kru.
Regulasi tersebut diberlakukan secara ketat guna menjaga keselamatan seluruh penumpang dan kru selama di udara. Namun, kedua pramugari tersebut terbukti mengabaikan batasan yang telah menjadi standar keamanan profesional perusahaan.
Upaya Menghindari Tes dan Dampak Penerbangan
Keesokan harinya, kedua kru dijadwalkan melayani penerbangan Flight JL252 dari Hiroshima menuju Bandara Haneda, Tokyo. Pesawat tersebut mengangkut total 193 penumpang beserta kru kabin lainnya.
Sebelum keberangkatan, salah satu pramugari mengaku merasa tidak sehat akibat pengaruh alkohol semalam. Pihak maskapai pun segera mencoret namanya dari daftar manifes penerbangan demi alasan keamanan.
Berbeda dengan rekannya, sang chief purser justru menunjukkan tindakan indisipliner yang lebih berat. Ia sengaja mengabaikan prosedur tes alkohol wajib yang seharusnya dilakukan di hotel sebelum menuju bandara.
Meskipun rekan kerja yang lebih junior sudah berulang kali mengingatkannya, atasan tersebut tetap bersikeras melenggang menuju bandara. Namun, upayanya untuk menutupi kondisi tersebut akhirnya menemui kegagalan saat proses pemeriksaan formal.
Di pos pemeriksaan bandara, ia wajib menjalani tes alat pendeteksi alkohol atau breathalyzer. Hasil tes menunjukkan angka positif, yang membuktikan adanya sisa alkohol dalam tubuhnya saat hendak bertugas.
Tabel Dampak Operasional Akibat Pelanggaran Kru:
| Detail Informasi | Keterangan Kejadian |
|---|---|
| Nomor Penerbangan | Flight JL252 (Hiroshima - Tokyo) |
| Jumlah Penumpang | 193 Orang |
| Durasi Penundaan | 40 Menit |
| Penyebab Delay | Pencarian kru pengganti secara mendadak |
Penerbangan akhirnya bisa dilanjutkan setelah manajemen berhasil menemukan awak pengganti dalam waktu singkat. Meskipun demikian, keterlambatan tetap tidak terhindarkan dan merugikan ratusan penumpang yang ada di pesawat.
Evaluasi Budaya Kerja dan Sanksi Perusahaan
Yukio Nakagawa, selaku Direktur sekaligus Chief Safety Officer JAL, mengakui adanya masalah serius dalam budaya kerja perusahaan. Ia menyoroti sistem hierarki yang terlalu kaku sebagai salah satu pemicu lolosnya pelanggaran tersebut.
Nakagawa menduga kru junior merasa sungkan atau tidak berdaya untuk menegur tindakan salah yang dilakukan oleh atasannya. Hal ini menciptakan celah keamanan yang sangat berbahaya bagi standar keselamatan penerbangan maskapai.
Pihak JAL telah melaporkan kasus ini secara resmi kepada Kementerian Transportasi Jepang untuk diselidiki lebih lanjut. Manajemen berkomitmen melakukan perubahan radikal guna memastikan kepatuhan total di seluruh lini organisasi.
Langkah tegas ini diambil demi mengembalikan kepercayaan publik yang sempat goyah akibat skandal berulang tersebut. JAL berjanji akan memperkuat pengawasan agar insiden serupa tidak lagi mencoreng reputasi penerbangan nasional Jepang.