Prajurit TNI Praka Rico Pramudia dinyatakan gugur pada Jumat, 25 April 2026, setelah menjalani perawatan intensif akibat luka berat dari ledakan proyektil di markasnya, Adchit Al Qusayr, Lebanon. Insiden yang merenggut nyawa personel Satgas UNIFIL tersebut memicu desakan investigasi dari berbagai pihak.
Kematian Rico menambah daftar kehilangan pasukan perdamaian Indonesia menjadi empat orang selama periode ketegangan pada akhir Maret 2026 di wilayah tersebut. Dilansir dari Kompas, korban sempat mendapatkan penanganan medis di Beirut sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Kementerian Luar Negeri mengungkapkan bahwa luka fatal tersebut dipicu oleh ledakan artileri dari tank Israel yang jatuh di area dekat Kota Al-Kushair. Pemerintah Indonesia kini tengah mengupayakan koordinasi intensif dengan UNIFIL guna memastikan proses repatriasi jenazah berjalan cepat dengan protokol penghormatan militer.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui juru bicaranya memberikan pernyataan resmi terkait tragedi yang menimpa penjaga perdamaian ini. Organisasi internasional tersebut menekankan pentingnya akuntabilitas hukum bagi pihak yang bertanggung jawab.
"Rico meninggal dunia karena luka berat yang dialami akibat ledakan proyektil di pangkalannya di Adchit Al Qusayr, Lebanon, pada 29 Maret," ujar St├®phane Dujarric, Juru bicara Sekjen PBB.
Penegasan mengenai status serangan terhadap personel PBB juga disampaikan sebagai pengingat bagi pihak-pihak yang bertikai di wilayah perbatasan. PBB menggarisbawahi bahwa tindakan kekerasan terhadap pasukan perdamaian memiliki konsekuensi hukum yang serius dalam tatanan global.
"Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!" kata Sahabat KompasTV, narasi promosi media.
Sebagai langkah antisipasi ke depan, Indonesia bersama negara-negara kontributor pasukan lainnya terus melakukan evaluasi prosedur keamanan di lapangan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko serupa bagi personel yang masih bertugas di wilayah konflik Lebanon.