Presiden RI Prabowo Subianto menghubungi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana untuk menanyakan detail pengadaan kamera pemantau atau CCTV di instansi tersebut pada Kamis (23/4/2026). Komunikasi ini dilakukan guna memastikan efisiensi anggaran dalam program pemenuhan gizi nasional.
Dilansir dari Kompas, Dadan Hindayana menjelaskan bahwa kontak langsung dari Presiden tersebut merupakan bentuk pengawasan detail terhadap penggunaan anggaran negara. Penjelasan ini disampaikan Dadan dalam sebuah program bincang-bincang pada Sabtu (25/4/2026).
Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa Presiden sangat memperhatikan rincian anggaran yang diajukan oleh Badan Gizi Nasional, termasuk item pengadaan perangkat teknologi.
ÔÇ£Gini, mungkin tidak saya melakukan itu tanpa persetujuan? Jadi memang ada beberapa item yang detail begitu, mungkin beliau tidak tahu ya, seperti misalnya kemarin beliau telepon, dua hari yang lalu telepon terkait menanyakan pengadaan CCTV,ÔÇØ kata Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional.
Dalam pembicaraan telepon tersebut, Dadan memberikan laporan bahwa skema pengadaan CCTV telah mengalami perubahan dari rencana awal yang tercantum dalam sistem informasi rencana umum pengadaan (SIRUP).
ÔÇ£Kemudian saya sampaikan, memang di anggaran itu ada sewa CCTV. Tapi kami sudah revisi, karena sekarang CCTV bisa dihandle oleh mitra,ÔÇØ katanya.
Dadan menambahkan bahwa pihak BGN saat ini fokus pada pengembangan sistem perangkat lunak dan spesifikasi teknologi yang terintegrasi dengan jaringan mereka.
ÔÇ£Jadi kami tinggal membuat spek yang sesuai dengan IOT yang kita kembangkan, dan penempatan pun kita harus buat sedemikian rupa, agar masuk di dalam software yang kami kembangkan, dari program yang kami kembangkan,ÔÇØ bebernya.
Kepala BGN menjelaskan bahwa perubahan metode pelaksanaan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari swakelola menjadi sistem kemitraan berdampak pada efisiensi anggaran pusat.
ÔÇ£Dan itu kenapa tahun 2025 ada anggaran-anggaran seperti itu, yang tidak semua anggaran itu setelah masuk di SIRUP itu, dilaksanakan juga. Dan kadang-kadang yang dibocorin yang di SIRUP itu,ÔÇØ jelasnya.
Menurut Dadan, model kemitraan ini memungkinkan program berkembang jauh lebih masif dengan target penerima manfaat mencapai 62 juta orang dalam waktu singkat.
ÔÇ£Nah sekarang rupanya kan metodenya berubah. Dari tadinya kita mau selenggarakan sendirian ternyata kemitraan. Dan kemitraan itu ternyata justru itu yang membuat program ini berkembang demikian cepat dan besar. Penerima manfaatnya hanya dalam 1 tahun 4 bulan menjadi 62 juta,ÔÇØ bebernya.
Skema revisi anggaran dilakukan karena pendanaan untuk fasilitas fisik di lapangan kini dibebankan kepada pihak mitra yang bekerja sama dengan BGN.
ÔÇ£Dan ini rasanya sulit kalau kita melakukannya dengan seluruhnya dibiayai oleh negara. Nah, oleh sebab itu kita revisi beberapa anggaran yang tadinya kita untuk pengadaan terpusat, menjadi dibebankan ke mitra, seperti contohnya yang sempat ditelepon Pak Presiden itu, CCTV,ÔÇØ katanya.
BGN tetap memegang kendali penuh atas standar teknologi yang digunakan oleh mitra agar sistem pemantauan tetap sinkron dengan pusat data nasional.
ÔÇ£Kita buat spek agar mereka memasang CCTV yang parameternya kita yang nentuin. Tolong dibelikan CCTV yang seperti ini, supaya masuk di dalam sistem IOT yang kita kembangkanÔÇØ, tambahnya.