Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkecil jarak antara kelompok kaya dan miskin melalui kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF) 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026).
Langkah strategis tersebut diambil demi memastikan pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan berada pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada tahun 2027 dapat dinikmati masyarakat secara merata, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Pemerintah memproyeksikan perbaikan rasio Gini menjadi 0,362 hingga 0,367 serta penurunan angka kemiskinan menjadi 6,05 persen hingga 6,5 persen pada tahun 2027 mendatang.
"Jarak antara yang terkaya dan yang termiskin tidak boleh semakin lebar, bahkan harus kita perjuangkan untuk terus menyempit," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Penurunan target kemiskinan tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan sasaran sebelumnya yang berada pada rentang 6,5 persen hingga 7,5 persen.
Selain menekan kemiskinan, indikator ketenagakerjaan juga disasar dengan proyeksi penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,30 persen hingga 4,87 persen, serta peningkatan proporsi lapangan kerja formal menjadi 40,81 persen.
Penguatan kualitas hidup masyarakat turut ditopang melalui peningkatan indeks modal manusia menjadi 0,575 dan kenaikan indeks kesejahteraan petani menjadi 0,8038, di mana nilai tukar petani saat ini telah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di angka 126.