Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi fase II di bawah pengelolaan Danantara Indonesia pada Rabu (29/2/2026). Inisiatif strategis yang mencakup sektor energi, baja, hingga perkebunan ini memiliki nilai investasi mencapai Rp116 triliun dan mendapat dukungan penuh dari DPR RI, sebagaimana dilansir dari Money.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyatakan bahwa dimulainya proyek-proyek tersebut merupakan bukti nyata keseriusan pemerintah dalam mengelola sumber daya alam. Misbakhun menegaskan pentingnya nilai tambah bagi produk mineral dan pertanian dalam negeri melalui keterangan tertulisnya.
"Pesan yang sangat kuat disampaikan oleh Bapak Presiden bahwa hilirisasi ini adalah memberikan nilai tambah terhadap produk-produk alam Indonesia baik itu mineral, pertanian maupun produk yang lain," ujar Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI.
Dukungan senada muncul dari Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Ermarini yang menekankan perlunya strategi matang dalam pelaksanaan fase kedua ini. Ia menyebut publik memiliki ekspektasi tinggi terhadap dampak ekonomi dari program hilirisasi tersebut.
"Karena masyarakat Indonesia semuanya, kita semua berharap besar terhadap keberhasilan proyek hilirisasi. Terutama untuk pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan serapan tenaga kerja," kata Anggia, Ketua Komisi VI DPR RI.
Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Arief Poyuono turut memberikan pandangannya terkait kedaulatan ekonomi melalui penguatan nilai tambah. Menurutnya, mengekspor bahan mentah secara terus-menerus hanya akan merugikan potensi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Selama ini kita melihat sumber daya alam kita keluar dalam bentuk mentah. Ketika kita menjual bahan mentah, itu sama saja kita menjual pertumbuhan ekonomi kita ke negara lain," ucap Arief, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN.
Arief juga menggarisbawahi pentingnya dukungan investasi besar dan penguasaan teknologi berbasis STEM demi keberlanjutan program. Keberadaan Danantara Indonesia dinilai krusial dalam membiayai fasilitas pengolahan dan smelter.
"Ini adalah cita-cita besar untuk menjadikan Indonesia berdaulat secara ekonomi. Hilirisasi harus menjadi tabungan masa depan bagi generasi mendatang, dan itu membutuhkan dukungan investasi serta kelembagaan yang kuat," jelas Arief.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengonfirmasi bahwa 13 proyek tersebut berjalan sesuai jadwal. Fokus utama proyek ini adalah memperkuat struktur industri dalam negeri serta mengurangi ketergantungan pada kegiatan ekspor bahan mentah melalui pembiayaan yang terintegrasi.