Potensi wabah penyakit menular diperkirakan akan terus berulang di masa mendatang. Hal ini dipicu oleh kemampuan virus untuk terus bermutasi dan menciptakan varian baru yang belum mampu dikenali oleh sistem kekebalan tubuh manusia.
Dikutip dari Media Indonesia, epidemiolog Masdalina Pane menjelaskan bahwa fenomena yang marak terjadi saat ini bukanlah kemunculan penyakit yang sepenuhnya baru. Situasi tersebut melainkan fenomena penyakit lama yang kembali mewabah di berbagai negara atau disebut re-emerging disease.
[Image of virus mutation process]
ÔÇ£Kalau dia penyakit baru disebut new emerging disease. Tapi yang sekarang banyak terjadi adalah re-emerging disease, penyakit lama yang muncul kembali dalam bentuk wabah,ÔÇØ kata Masdalina saat dihubungi, Selasa (19/5).
Beberapa contoh penyakit lama yang kembali mencuat adalah Ebola dan Hantavirus. Penyakit Ebola sebelumnya pernah memicu wabah besar di wilayah Afrika Barat pada tahun 2014, tepatnya di negara Liberia, Guinea, dan Sierra Leone.Kemampuan virus untuk bertahan hidup dan memicu gelombang wabah baru terjadi akibat proses mutasi serta multiplikasi. Risiko penyebaran ini juga kian meningkat seiring dengan dampak perubahan iklim global dan urbanisasi yang tidak terkendali, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak yang belum mendapatkan pelindungan kekebalan.
ÔÇ£Kalau variannya berubah, tubuh kita belum mengenali, sehingga muncul sakit lagi. Itu sebabnya orang bisa kena influenza berulang kali karena virusnya berbeda,ÔÇØ ujarnya.
Proses perbanyakan diri virus dilakukan melalui multiplikasi, bukan dengan cara reproduksi seperti makhluk hidup lain. Mekanisme ini berpotensi mengubah karakteristik virus, termasuk memengaruhi tingkat keganasan atau virulensinya.
ÔÇ£Waktu awal muncul biasanya virulensinya masih sangat ganas. Tapi seiring waktu bisa menurun,ÔÇØ katanya.
Kendati demikian, kemunculan varian baru dari hasil mutasi tetap dapat memicu lonjakan kasus yang signifikan. Kondisi ini rawan terjadi jika sistem imunitas di tengah masyarakat belum siap menghadapinya.
Langkah penguatan sistem surveilans penyakit menjadi hal krusial untuk mendeteksi perubahan karakteristik virus sejak dini. Pemantauan di Indonesia saat ini berjalan lewat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), termasuk untuk pengawasan penyakit influenza serta Covid-19.
Melalui sistem tersebut, pasien yang terdeteksi memiliki gejala influenza like illness (ILI) di wilayah sentinel akan menjalani pemeriksaan usap atau swab test. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan varian virus secara spesifik.
ÔÇ£Yang diperiksa bukan hanya positif atau negatif, tetapi juga variannya. Karena perubahan varian itu yang bisa menyebabkan wabah,ÔÇØ jelasnya.
Selain optimalisasi surveilans, ketahanan sistem kesehatan nasional perlu diperkuat secara menyeluruh. Penguatan kapasitas ini penting agar fasilitas dan layanan kesehatan tidak mengalami kelumpuhan saat menghadapi lonjakan kasus besar.
ÔÇ£Kita pernah tidak tahan menghadapi Covid waktu Delta, ketika orang susah cari tempat tidur, oksigen hilang dari pasaran, obat sulit didapat,ÔÇØ katanya.
Sebagai langkah pencegahan tambahan, pengetatan protokol juga sempat dilakukan di jalur transportasi guna membendung penyebaran penyakit seperti Hantavirus, meskipun risiko global dinilai tetap rendah.
Upaya mitigasi yang efektif dapat dimaksimalkan melalui peningkatan cakupan imunisasi rutin. Pemberian imunisasi dinilai jauh lebih efisien serta murah dibandingkan dengan penanganan ketika sudah terjadi Status Kejadian Luar Biasa (KLB), khususnya untuk penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti campak, polio, difteri, dan pertusis.
ÔÇ£Jangan ketika muncul wabah baru kemudian kita berespons. Yang utama adalah mitigasinya,ÔÇØ pungkasnya.