Sektor Kredit Nasional Berpotensi Tumbuh Dua Digit pada 2026

Sektor Kredit Nasional Berpotensi Tumbuh Dua Digit pada 2026
Foto: Ilustrasi Sektor Kredit Nasional Berpotensi Tumbuh Dua Digit pada 2026.

Sektor industri perkreditan nasional diproyeksikan mampu mencatatkan pertumbuhan hingga dua digit pada tahun 2026 dengan menjaga keseimbangan antara ekspansi dan manajemen risiko secara ketat pada Selasa (28/4/2026).

Analisis terbaru PT Pefindo Biro Kredit atau IdScore, sebagaimana dilansir dari Finansial, menunjukkan total outstanding kredit nasional per Februari 2026 telah menembus angka Rp9.938,2 triliun dengan kenaikan 9,6 persen secara tahunan.

Meskipun rasio kredit bermasalah atau NPL Gross masih berada di level aman 2,85 persen, segmen konsumtif dan debitur berpendapatan rendah mulai merasakan tekanan akibat pelemahan daya beli serta tingginya biaya dana global.

Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi menjelaskan bahwa prospek kredit tetap berada di jalur positif dengan estimasi pertumbuhan sebesar 10 persen hingga 11 persen yang ditopang kuatnya permintaan domestik.

Hambatan utama saat ini bersumber dari faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan suku bunga global yang tetap tinggi, sehingga memberikan dampak rembetan ke industri keuangan dalam negeri.

ÔÇ£Dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang telah melewati Rp17.000 dan likuiditas perbankan yang lebih ketat berpengaruh terhadap lambatnya penurunan suku bunga kredit,ÔÇØ ujar Tan Glant Saputrahadi, Direktur Utama IdScore.

Kondisi tersebut membuat beban debitur ritel masih tinggi meski Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan, karena transmisi ke bunga kredit perbankan dinilai belum berjalan secara optimal.

Di tengah tantangan makroekonomi, IdScore menyoroti pentingnya implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi sebagai instrumen penguat tata kelola data guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan.

Tan Glant Saputrahadi menekankan perlunya penerapan regulasi data secara proporsional agar tidak menghambat analisis kredit, karena keberlanjutan industri sangat bergantung pada kualitas dan pengawasan yang memadai.

ÔÇ£Kredit yang sehat adalah fondasi ekonomi yang kuat. Tanpa literasi dan pengawasan yang memadai, pertumbuhan kredit justru bisa menjadi risiko sistemik di masa depan,ÔÇØ kata Tan Glant Saputrahadi, Direktur Utama IdScore.

Artikel terkait

Rekomendasi