Nilai tukar rupiah diprediksi mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.550 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini akibat eskalasi ketegangan geopolitik global. Kondisi ini dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dengan Iran serta dampak serangan drone terhadap kilang minyak di Rusia pada Selasa (5/5/2026).
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pelemahan mata uang Garuda saat ini masih dalam tahap wajar meskipun telah melampaui angka Rp17.400. Sebagaimana dilansir dari Suara, fluktuasi ini sangat dipengaruhi oleh sentimen investor yang mulai beralih ke aset aman atau safe haven.
"Rupiah yang mengalami pelemahan sudah di atas Rp 17.400. Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp 17.550. Kemungkinan besar, kemungkinan akan tercapai," ujarnya kepada Wartawan, Selasa (5/5/2026).
Assuaibi menjelaskan lebih lanjut bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Rusia telah memangkas kapasitas produksi minyak negara tersebut. Hal ini secara langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, baik jenis Brent maupun WTI.
"Kemudian, penyebab lainnya ukraina yang melakukan penyerangan dengan menggunakan drone terhadap wilayah, rusia kilang-kilang minyak dibombardir dan ini mengakibatkan produksi kilang minyak di Rusia ini mengalami penurunan. 10 persen kemungkinan besar ini mengalami penurunan, sehingga ini berdampak terhadap penguatan harga minyak mentah baik grain maupun WTI crude oil," ucap Ibrahim Assuaibi.
Merespons situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya melalui intervensi pasar. Meski data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp14.437 per dolar AS sebagai rekor baru, BI menilai pergerakan tersebut masih selaras dengan tren mata uang regional.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, memberikan rincian perbandingan pelemahan mata uang di pasar negara berkembang sejak konflik Timur Tengah memanas.
"Pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya. Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht melemah 5,04 persen, India rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile peso -4,24 persen Indonesia rupiah -3,65 persen dan Korea won -2,29 persen," beber Erwin Gunawan Hutapea dalam pernyataan tertulis.
Bank Indonesia akan terus melakukan optimalisasi intervensi pada transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder tetap dilakukan secara konsisten guna meredam tekanan global yang terus berlanjut.