Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level Rp 18.300 per dollar AS pada tahun ini akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Dilansir dari Money, pelemahan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia dan ketidakpastian pasar global yang terjadi hingga Rabu (6/5/2026).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa mata uang Garuda telah melewati level psikologis di kisaran Rp 17.400 pada perdagangan Senin (4/5/2026). Pergerakan mata uang pada kuartal II 2026 diperkirakan berada dalam rentang Rp 17.200 hingga Rp 17.600 per dollar AS.
Analisis tersebut didasarkan pada kondisi harga minyak Brent yang tetap tinggi serta belum meredanya konflik di Iran. Tekanan lebih lanjut dapat membawa rupiah menguji level yang lebih rendah jika arus modal asing tidak segera pulih.
"Jika Brent bertahan di atas 110 dollr AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Josua menambahkan bahwa skenario tekanan ekstrem mungkin terjadi jika harga minyak Brent menembus angka 120 dollar AS per barrel. Risiko tambahan muncul dari kondisi fiskal dalam negeri dan pelebaran defisit transaksi berjalan yang diwaspadai pelaku pasar.
"Namun, saya belum menjadikan level tersebut sebagai skenario dasar. Level itu baru relevan sebagai skenario tekanan ekstrem jika konflik Timur Tengah berkepanjangan, harga minyak melonjak jauh lebih tinggi, dan investor asing keluar lebih agresif," ucap Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Dampak dari pelemahan nilai tukar yang drastis ini dikhawatirkan akan merembet ke sektor domestik, termasuk potensi kenaikan harga BBM subsidi dan inflasi. Situasi ini juga berisiko menekan pertumbuhan ekonomi nasional hingga di bawah angka 5 persen serta memicu kenaikan suku bunga acuan.
Peluang penguatan tetap terbuka pada semester II 2026 apabila ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak dunia kembali melandai. Dalam kondisi tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi bisa kembali ke area Rp 16.900 hingga Rp 17.300 per dollar AS.
"Tetapi jika perang dan tekanan minyak berlanjut, akhir tahun lebih realistis berada di sekitar Rp 17.300 sampai Rp 17.700," tambah Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Senada dengan pandangan tersebut, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti pentingnya jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Gangguan pada jalur tersebut dinilai menjadi faktor krusial yang dapat memperburuk posisi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
"Apabila Selat Hormuz masih ditutup dah minyak mentah masih di atas 100 dollar AS, rupiah bisa mencapai Rp 18.000," ucap Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.
Kondisi pasar saat ini masih menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi bagi mata uang domestik. Meski sempat menguat ke Rp 17.383 pada Rabu pagi, nilai tukar rupiah kembali bergerak melampaui batas Rp 17.400 per dollar AS dalam waktu singkat.