Pakar Ingatkan Indonesia Berpotensi Jadi Markas Judi Online Internasional

Pakar Ingatkan Indonesia Berpotensi Jadi Markas Judi Online Internasional
Foto: Ilustrasi Pakar Ingatkan Indonesia Berpotensi Jadi Markas Judi Online Internasional.

Pakar keamanan siber CISSReC, Pratama Dahlian Persadha, memperingatkan risiko Indonesia menjadi lokasi baru operasi judi online internasional menyusul penggerebekan markas besar di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Operasi kepolisian pada Sabtu (9/5/2026) tersebut mengungkap adanya pergeseran pola kejahatan transnasional ke wilayah tanah air.

Dilansir dari Megapolitan, Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri bersama Polda Metro Jaya menangkap 321 warga negara asing (WNA) dalam penggerebekan tersebut. Sebanyak 275 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dengan total barang bukti uang tunai mencapai Rp 1,9 miliar beserta 75 domain situs judi online.

Pratama Dahlian Persadha menjelaskan bahwa jaringan pelaku cenderung mencari wilayah yang dianggap lebih aman setelah mendapatkan tekanan penindakan di negara lain seperti Kamboja. Menurutnya, pemindahan operasional ini merupakan pola yang terorganisir karena jaringan inti pelaku belum sepenuhnya terputus oleh aparat penegak hukum.

"Jadi masalah judi online ini memang menjadi masalah di banyak negara. Kemarin di Kamboja habis-habis kan, ditutup, kemudian ditangkap besar-besaran. Nah, akhirnya mereka jadi pindah kemana-mana. Ini memang kejahatan transnasional," kata Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Kekhawatiran muncul mengenai potensi Indonesia menjadi pusat relokasi sindikat jika pengawasan tidak diperketat secara signifikan. Pratama menyoroti bagaimana pelaku kejahatan mampu menjalankan operasional besar dengan ratusan pekerja di gedung-gedung yang disewa secara khusus.

"Yang jadi masalah, orang-orangnya masih ada. Tidak semuanya ditangkap. Akhirnya mereka mencari tempat yang dianggap aman untuk beroperasi. Nah, mereka kemudian memilih Indonesia," lanjut Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Identifikasi terhadap ratusan orang yang ditangkap menunjukkan adanya struktur organisasi yang berlapis di lapangan. Pratama menilai sebagian besar yang diamankan merupakan tenaga operasional, sedangkan dalang utama atau pemodal jaringan tersebut kemungkinan belum tersentuh dalam penggerebekan awal.

"Jangan sampai Indonesia menjadi safe haven untuk operasi judi online Asia Tenggara," ujar Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Analisis digital forensik terhadap perangkat elektronik yang disita, seperti komputer dan ponsel, dianggap krusial untuk memetakan struktur perintah. Pratama mendorong penyelidikan mendalam untuk mengungkap aktor di balik layar, termasuk pemilik platform dan penyedia rekening yang memfasilitasi aliran dana.

"Dari sekitar 320 orang itu, levelnya bermacam-macam. Belum tentu mereka mastermind-nya," kata Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Kecanggihan sistem judi online saat ini memungkinkan para pelaku untuk memulihkan operasional mereka dalam waktu singkat. Tantangan teknis seperti penggandaan sistem dan pembuatan domain baru dalam jumlah masif membuat pemblokiran situs saja tidak lagi memadai untuk memutus rantai kejahatan.

"Yang perlu diperdalam itu siapa pemodalnya, siapa pemilik platform-nya, siapa penyedia rekeningnya," ujar Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Penggunaan aset kripto dan sistem keuangan domestik menjadi fokus utama dalam menelusuri transaksi para sindikat. Pratama menekankan perlunya transparansi dari pihak perbankan dalam mendeteksi pola transaksi mencurigakan yang berlangsung secara masif dan berulang selama 24 jam.

"Selain follow the money, dari alat komunikasi dan komputer itu bisa dilakukan digital forensik," kata Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Rendahnya hambatan teknologi memungkinkan pelaku melakukan kloning sistem hanya dalam hitungan jam setelah penindakan dilakukan oleh otoritas terkait. Hal ini menuntut adanya strategi yang lebih komprehensif dibandingkan sekadar penutupan akses internet secara konvensional.

"Misalnya sekarang digerebek, mereka hanya butuh waktu dua atau tiga jam untuk cloning sistem," ujar Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Ketersediaan domain baru yang dapat muncul seketika setelah pemblokiran menjadi alasan mengapa tindakan preventif teknis sering kali tertinggal oleh kecepatan adaptasi sindikat. Pratama menyebut bahwa volume domain baru bisa melonjak dua kali lipat dalam waktu singkat.

"Sekarang diblokir sejuta, nanti malam muncul dua juta lagi," kata Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Keterlibatan rekening bank lokal dalam proses deposit menjadi celah yang harus segera ditutup melalui pengawasan perbankan yang ketat. Transaksi dalam nominal kecil namun berjumlah banyak merupakan indikasi kuat adanya aktivitas ilegal yang seharusnya bisa dideteksi oleh sistem otomatis perbankan.

"Tidak mungkin mereka menggunakan rekening luar negeri semua, pasti ada rekening Indonesia," ujar Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Penyelidikan saat ini diarahkan untuk membongkar siapa saja penyedia rekening domestik yang digunakan oleh jaringan internasional tersebut. Fokus investigasi meliputi identitas penyedia rekening dan alasan mengapa pola transaksi yang jelas tersebut belum terdeteksi sebelumnya oleh sistem perbankan.

"Siapa yang menyediakan rekening itu? Pakai bank mana? Kenapa bank diam saja? Padahal bank sebenarnya bisa mendeteksi rekening yang digunakan untuk deposit judi online karena polanya jelas, transaksinya kecil-kecil, jumlahnya banyak, dan berlangsung 24 jam. Hal-hal seperti itu yang nanti bisa diungkap," kata Pratama, Pakar Keamanan Siber CISSReC.

Artikel terkait

Rekomendasi