Pelaku pasar saham dalam negeri mengantisipasi potensi gejolak baru pada indeks harga saham gabungan menjelang pengumuman hasil tinjauan berkala indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026.
Dilansir dari Market, kekhawatiran pelaku pasar dipicu oleh kemungkinan pengurangan bobot investasi (underweight) bagi Indonesia serta potensi keluarnya sejumlah saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari daftar indeks tersebut.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan bahwa investor asing sebenarnya telah mengantisipasi sentimen negatif ini melalui aksi pelepasan saham dalam beberapa pekan terakhir.
ÔÇ£Menurut kami, asing sudah jualan dari kemarin-kemarin. Jadi mungkin besok masih volatil, tapi kalau besar-besaran sampai di bawah 6.800 kayaknya enggak,ÔÇØ ujar Liza, Senin (11/5/2026).
Penurunan persepsi investor global terhadap pasar domestik disebut Liza tidak hanya dipengaruhi oleh kemungkinan keluarnya emiten seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dari indeks MSCI.
ÔÇ£Yang menjadi concern itu saham-saham lain yang juga di-underweight. Jadi di indeks MSCI itu kan saham Indonesia bukan cuma BREN dan DSSA, ada saham lain juga yang porsinya dikurangi,ÔÇØ lanjut Liza.
Ketiadaan katalis positif tambahan membuat modal asing diperkirakan masih sulit untuk kembali masuk ke pasar modal Indonesia secara agresif dalam waktu dekat.
ÔÇ£Sayangnya, katalis yang berkembang sekarang semuanya negatif. Jadi agak sulit berharap asing masuk lagi ke Indonesia dalam jangka pendek,ÔÇØ ujar Liza.
Mengenai data transaksi besar senilai Rp12 triliun yang baru-baru ini tercatat, Liza menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hasil transaksi negosiasi terkait aksi korporasi PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) dan bukan arus masuk murni di pasar reguler.
Liza mengimbau investor untuk tetap waspada terhadap level psikologis IHSG yang berada di angka 6.800 karena penembusan angka tersebut bisa memicu tekanan jual yang lebih masif.
ÔÇ£Kalau di bawah 6.800, alarmnya sudah nyala banget,ÔÇØ kata Liza.
Meskipun tekanan eksternal seperti pelemahan rupiah di atas Rp17.400 dan kenaikan harga minyak dunia masih membayangi, beberapa saham sektor perbankan dan emiten tertentu seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dinilai tetap menarik secara teknikal.
ÔÇ£Kalau memang bea keluar plastik jadi 0%, mungkin bisa jadi momentum untuk TPIA. Tapi problemnya bercampur dengan sentimen MSCI,ÔÇØ ujar Liza.
Kiwoom Sekuritas saat ini menetapkan revisi target IHSG pada kuartal II/2026 di level 7.300 dengan memperhatikan perkembangan tensi geopolitik global dan stabilitas fiskal nasional ke depan.