Potensi Biomassa Sawit Indonesia Mampu Pasok 15,7 Persen Kebutuhan Listrik Nasional

Potensi Biomassa Sawit Indonesia Mampu Pasok 15,7 Persen Kebutuhan Listrik Nasional
Foto: Ilustrasi Potensi Biomassa Sawit Indonesia Mampu Pasok 15,7 Persen Kebutuhan Listrik Nasional.

Potensi biomassa kelapa sawit di Indonesia dinilai sangat besar untuk mendukung transisi energi dari pembangkit batu bara menuju energi terbarukan. Komoditas ini memiliki bahan baku, jalur konversi, dan sebaran geografis yang dapat berkontribusi nyata pada penurunan emisi gas rumah kaca.

Dikutip dari Media Indonesia, praktisi sawit berkelanjutan dari Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) Sustainability Universitas Trisakti, Windrawan Inantha, memaparkan besarnya potensi tersebut dalam konferensi Palm Oil Expo (Palmex) 2026 di Jakarta baru-baru ini.

ÔÇ£Potensi biomassa sawit Indonesia sangat besar. Dalam Palm Oil Expo (Palmex) 2026 terungkap, dari 150 juta ton biomassa sawit kering per tahun dapat dihasilkan sekitar 50 TWh listrik, atau setara 15,7% kebutuhan listrik nasional,ÔÇØ kata Windrawan.

Indonesia sendiri mencatatkan produksi yang masif di sektor ini. Pada 2025, Indonesia memproduksi 51,66 juta ton Crude Palm Oil (CPO) serta 56,55 juta ton total kombinasi CPO dan Palm Kernel Oil (PKO).

Dari total tersebut, ekspor produk sawit mencapai 32,34 juta ton dengan nilai menembus 35,87 miliar Dollar AS, atau setara kurang lebih Rp590 triliun. Penyerapan untuk biodiesel B40 berada di angka 12,5ÔÇô12,7 juta ton, yang setara dengan 24ÔÇô25% dari total produksi CPO.

Selain biodiesel, sumber energi dari kelapa sawit diperoleh dari cangkang, serat mesokarp, tandan kosong, pelepah, batang hasil replanting, serta Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair sisa pengolahan kelapa sawit menjadi minyak.

Peralihan ke energi terbarukan, pengurangan emisi metana di sektor pertanian dan limbah, serta dekarbonisasi penerbangan menjadi prioritas dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia berdasarkan Perjanjian Paris.

Windrawan menyebutkan bahwa pemanfaatan potensi ini tidak memerlukan penemuan teknologi baru, melainkan kedisiplinan tata kelola untuk mengintegrasikan sumber daya yang sudah tersedia.

ÔÇ£Kendati begitu, Windrawan mengingatkan bahwa pengembangan sawit sebagai energi harus dikawal dengan traceability, legal origin, audit emisi, perlindungan petani, dan batas keberlanjutan agar tidak memicu deforestasi, kompetisi pangan dan energi, serta greenwashing.ÔÇØ

Peneliti geologi perminyakan, tektonik, dan geologi regional Indonesia dari Universitas Trisakti, Agus Guntoro, menambahkan bahwa argumen dekarbonisasi ini harus dilihat dalam ekosistem energi global.

ÔÇ£Pembangkitan listrik Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara, sementara sektor industri dan transportasi merupakan konsumen besar diesel dan LPG. Setiap unit biomassa sawit yang menggantikan batu bara di pembangkit listrik, diesel di boiler industri, atau LPG dalam aplikasi panas proses akan menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca dari konsumsi energi Indonesia,ÔÇØ kata Guntoro.

Guntoro menegaskan bahwa sumber daya energi alternatif melimpah ini harus dioptimalkan pada skala mikro, menengah, hingga makro melalui prinsip pengorganisasian keunggulan komparatif regional.

ÔÇ£Wilayah penghasil sawit harus diprioritaskan untuk pengembangan energi biomassa sawit karena penurunan emisi dapat dicapai di lokasi yang sama dengan tempat sumber daya tersebut dihasilkan,ÔÇØ ujarnya.

Langkah ini dinilai efektif mereduksi jejak energi transportasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan menekan ketergantungan terhadap komoditas impor.

Artikel terkait

Rekomendasi