CORE Indonesia Nilai Potensi Aliran Dana Desa Prabowo Sangat Logis

CORE Indonesia Nilai Potensi Aliran Dana Desa Prabowo Sangat Logis
Foto: Ilustrasi CORE Indonesia Nilai Potensi Aliran Dana Desa Prabowo Sangat Logis.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai perhitungan Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi aliran dana hingga miliaran rupiah ke desa secara nasional merupakan hal yang masuk akal, dilansir dari Nasional pada Senin (18/5/2026).

Aritmetika tersebut didasarkan pada akumulasi dana yang mengalir ke seluruh ekosistem desa di Indonesia. Anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai Rp 71 triliun per tahun setara dengan hampir Rp 200 miliar per hari jika dirata-ratakan, belum termasuk modal awal program Kopdes Merah Putih untuk 80.000 koperasi desa.

"Secara aritmetik sebenarnya tidak mengada-ada jika yang dimaksud adalah akumulasi dana yang mengalir ke seluruh ekosistem desa secara nasional," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Yusuf mengingatkan bahwa hal yang lebih krusial adalah penciptaan efek berganda (multiplier effect) terhadap ekonomi lokal daripada sekadar besarnya nominal uang yang masuk. Secara teori, efek berganda di pedesaan bisa lebih tinggi karena warga cenderung langsung membelanjakan tambahan pendapatan mereka untuk kebutuhan pokok harian.

Efektivitas perputaran uang tersebut sangat bergantung pada kesiapan rantai pasok lokal dalam memenuhi kebutuhan program pemerintah.

"Jika bahan baku program MBG masih banyak didatangkan dari luar daerah, maka uang yang masuk ke desa hanya singgah sementara sebelum kembali keluar," katanya.

Kondisi ekonomi desa saat ini masih menghadapi tantangan berat akibat urbanisasi dan pemusatan ekonomi di perkotaan. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional kini berada di bawah 13 persen, padahal sekitar 28 persen tenaga kerja nasional menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa produktivitas per pekerja di sektor pertanian masih rendah, sehingga desa membutuhkan sumber pertumbuhan baru di luar sektor pertanian tradisional.

"Ketimpangan ini menunjukkan bahwa produktivitas per pekerja di sektor pertanian masih relatif rendah dibandingkan sektor lain," ujarnya.

Peluang pertumbuhan baru pedesaan berpotensi lahir dari pengembangan rural non-farm economy, seperti pengolahan pascapanen, agribisnis berbasis klaster, UMKM pangan, industri kreatif, serta logistik. Sektor-sektor seperti pertanian pangan, peternakan rakyat, perikanan budidaya, dan logistik desa diperkirakan akan menjadi yang paling cepat merasakan dampak positif.

Pemerintah disarankan melakukan transformasi struktural jangka panjang dan mengantisipasi risiko elite capture, tekanan inflasi pangan, serta ketergantungan desa pada belanja negara.

"Desa masih bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, tetapi yang dibutuhkan adalah transformasi struktural, bukan sekadar transfer fiskal jangka pendek," katanya.

Langkah mitigasi lain yang perlu diperhatikan adalah mencegah kebocoran anggaran dan melindungi pelaku usaha kecil lokal yang sudah ada dari ancaman entitas baru bersubsidi negara. CORE menegaskan pentingnya memastikan pasokan bahan baku MBG murni berasal dari petani setempat.

"Pemerintah perlu menentukan kapan koperasi dianggap mandiri, ukuran kemandiriannya seperti apa, dan evaluasi apa yang dilakukan jika target tidak tercapai," tutup Yusuf.

Artikel terkait

Rekomendasi