Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menggagas solusi untuk menekan ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai Jakarta setelah temuan hasil tangkapan mencapai 6,9 ton pada akhir pekan kemarin. Dilansir dari Suara, langkah ini diambil menyusul terbatasnya pemanfaatan jenis ikan tersebut akibat risiko kesehatan bagi masyarakat.
Kondisi ikan sapu-sapu yang hidup di aliran sungai Jakarta dinilai tidak layak untuk diolah sebagai bahan pangan. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Haeru Rahayu, memberikan peringatan tegas mengenai potensi bahaya yang terkandung di dalam tubuh ikan tersebut jika masuk ke sistem pencernaan manusia.
"Yang berbahayanya kalo dimanfaatkan untuk dikonsumsi, disinyalir mengandung logam berat," ucap Haeru.
Penegasan mengenai kandungan polutan tersebut berkaitan erat dengan kondisi habitat asal ikan yang telah tercemar merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), hingga kromium (Cr). Aktivitas industri di kawasan penyangga seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi diidentifikasi sebagai penyumbang utama limbah cair berbahaya yang mengalir ke badan sungai.
Selain faktor industri besar, akumulasi limbah domestik dari penggunaan deterjen dan pembuangan baterai bekas turut memperparah konsentrasi logam berat. Keberadaan industri rumahan dan bengkel kecil yang membuang limbah elektronik secara ilegal juga menyulitkan pengawasan kualitas air karena sifatnya yang tidak terorganisir.
Secara struktural, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memegang otoritas dalam menetapkan standar kualitas air nasional. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bertanggung jawab dalam melakukan pemantauan rutin serta penindakan hukum terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan pembuangan limbah di wilayah ibu kota.