Polisi Ungkap Motif Mengejutkan Paman yang Tega Habisi Nyawa Balita di 2026

Polisi Ungkap Motif Mengejutkan Paman yang Tega Habisi Nyawa Balita di 2026
Foto: Polisi Ungkap Motif Mengejutkan Paman yang Tega Habisi Nyawa Balita di 2026. (Illustration by Pexels)

Kasus pembunuhan sadis yang menimpa seorang balita berusia 2,5 tahun di perumahan kawasan Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bekasi, kini mulai terungkap titik terangnya. Pihak kepolisian telah membeberkan motif mengejutkan di balik peristiwa berdarah yang melibatkan seorang pemuda berinisial G (18) sebagai pelaku utama.

Pelaku yang merupakan paman kandung korban tersebut ditangkap setelah jasad keponakannya yang berinisial A ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah rumah kontrakan. Polisi menyebutkan bahwa emosi sesaat menjadi pemicu utama tersangka melakukan tindakan keji tersebut terhadap anggota keluarganya sendiri.

Motif Utama Akibat Terganggu Saat Bermain Game

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula dari kekesalan tersangka saat sedang asyik bermain game di ponselnya. Berdasarkan pemeriksaan, tersangka merasa tidak nyaman dengan kehadiran korban yang mendekatinya saat itu.

Pemicu kemarahan tersangka berinisial G di lokasi kejadian:

  • Korban yang masih balita mencoba bermain dengan naik ke punggung tersangka.
  • Aktivitas bermain game tersangka terganggu sehingga memicu ledakan emosi yang tidak terkendali.

Pihak kepolisian sangat menyayangkan motif sepele tersebut berujung pada hilangnya nyawa seorang anak kecil. Rasa kesal yang membuncah membuat tersangka gelap mata hingga tega mengambil tindakan yang sangat ekstrem terhadap keponakannya.

Kompol Andi Muhammad Iqbal menyatakan bahwa setelah tersulut emosi, tersangka langsung beranjak ke area dapur untuk mencari senjata tajam. Tanpa pikir panjang, G mengambil sebilah pisau dan melancarkan serangan fisik secara brutal ke arah tubuh korban yang tidak berdaya.

Serangan pertama diarahkan langsung ke bagian kepala korban, yang kemudian diikuti dengan tusukan bertubi-tubi ke bagian tubuh lainnya. Kejadian mengerikan ini berlangsung sangat cepat di dalam rumah kontrakan yang saat itu sedang sepi dari pengawasan anggota keluarga dewasa lainnya.

Hasil Visum Temukan Puluhan Luka Tusuk

Kekejaman tersangka tergambar jelas melalui hasil visum yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati. Tim medis menemukan fakta memilukan terkait jumlah luka yang diderita oleh balita malang tersebut di sekujur tubuhnya.

Rincian luka pada tubuh korban berdasarkan data kepolisian:

Area Tubuh Korban Jumlah Luka Ditemukan
Bagian Wajah 20 Luka Tusukan
Bagian Badan 12 Luka Tusukan dan Sayatan
Total Keseluruhan 32 Luka di Seluruh Tubuh

Data medis di atas menunjukkan tingkat kekerasan yang sangat tinggi dalam peristiwa tersebut. Polisi menekankan bahwa luka-luka tersebut menjadi bukti nyata betapa brutalnya serangan yang dilakukan oleh tersangka G kepada korban A.

Iqbal memaparkan bahwa banyaknya luka di area wajah menunjukkan adanya luapan amosi yang sangat intens dari pelaku. Hal ini menjadi fokus pendalaman bagi tim penyidik guna memahami kondisi psikologis tersangka saat kejadian berlangsung.

Klaim Adanya Bisikan Gaib dan Tekanan Mental

Selain faktor emosi karena gangguan saat bermain game, tim penyidik juga menggali keterangan lain dari mulut tersangka. Dalam proses pemeriksaan, pemuda berusia 18 tahun tersebut memberikan pengakuan yang cukup mencengangkan terkait alasan tindakannya.

G mengklaim bahwa dirinya sering mendengar suara-suara aneh atau bisikan gaib di dalam pikirannya sesaat sebelum melakukan pembunuhan. Ia juga mengutarakan sebuah keinginan aneh untuk segera meninggal dunia atau bertemu dengan Tuhan.

Selama ini, korban A memang tinggal bertiga bersama tersangka dan neneknya di rumah kontrakan tersebut sejak masih bayi. Sang nenek memikul beban sebagai pencari nafkah utama dengan berjualan setiap sore hingga malam hari.

Kondisi ini membuat korban dititipkan di bawah pengawasan tersangka G saat sang nenek sedang bekerja. Biasanya, jika korban mulai rewel, G akan meminta bantuan kakaknya yang tinggal di lantai dua, namun pada hari kejadian hal itu tidak dilakukan.

Sejumlah saksi di sekitar lingkungan kontrakan melaporkan sempat mendengar suara tangisan anak kecil dalam durasi yang cukup lama. Diperkirakan korban menangis selama kurang lebih tiga jam sebelum akhirnya suasana berubah menjadi sunyi mencekam.

Bahkan, salah satu tetangga mengaku masih mendengar suara tangisan lirih ketika tersangka keluar rumah sebentar untuk membeli token listrik saat menjelang magrib. Hal ini mengindikasikan bahwa aksi kekerasan tersebut terjadi dalam rentang waktu tersebut.

Riwayat Penyakit dan Upaya Bunuh Diri

Pihak kepolisian menemukan fakta lain bahwa setelah menghabisi nyawa keponakannya, tersangka G diduga sempat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Upaya percobaan bunuh diri tersebut dilakukan di dalam rumah kontrakan yang menjadi lokasi kejadian perkara.

Fakta mengenai kondisi kesehatan dan riwayat tersangka G:

  • Memiliki riwayat penyakit epilepsi yang sudah diderita sejak lama.
  • Mengalami tekanan psikologis kronis atau stres akibat kondisi fisiknya.
  • Pernah mengutarakan niat ingin bunuh diri sebanyak 10 kali kepada keluarga.
  • Menunjukkan indikasi gangguan mental yang sudah terdeteksi oleh orang terdekat.

Informasi dari pihak keluarga ini sangat membantu penyidik dalam memetakan latar belakang profil tersangka secara lebih mendalam. Polisi menyimpulkan bahwa kombinasi antara stres penyakit fisik dan gangguan mental berkontribusi pada tindakan sadis pelaku.

Kini, tersangka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum meskipun memiliki riwayat kesehatan tertentu. Proses penyidikan masih terus berlanjut untuk melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke pihak kejaksaan.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat mengenai pentingnya pengawasan terhadap anak kecil serta kepedulian terhadap kesehatan mental anggota keluarga. Lokasi rumah kontrakan di Jatisampurna tersebut kini masih dipasangi garis polisi untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi