Pidato Presiden Prabowo Tentukan Kepercayaan Investor di Tengah Tekanan Pasar

Pidato Presiden Prabowo Tentukan Kepercayaan Investor di Tengah Tekanan Pasar
Foto: Ilustrasi Pidato Presiden Prabowo Tentukan Kepercayaan Investor di Tengah Tekanan Pasar.

Investor kini sedang memberikan perhatian penuh terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026). Dikutip dari Money, kepala negara dijadwalkan memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) sebagai dasar penyusunan RAPBN 2027.

Momentum ini dipandang sangat krusial karena pasar keuangan domestik sedang membeku di bawah tekanan besar. Pidato kepresidenan tersebut diyakini bakal menjadi penentu utama dalam memulihkan keyakinan pelaku pasar modal setelah performa indeks saham dan mata uang Garuda merosot.

Berdasarkan data pasar, IHSG melemah sebesar 3,46 persen atau ambruk 228,560 poin ke posisi 6.370,679 pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026). Pada saat yang sama, kurs rupiah di pasar spot juga ditutup anjlok 0,22 persen ke level Rp 17.706 per dollar AD.

Hendra Wardana selaku pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor menjelaskan bahwa pelaku pasar menantikan kejelasan strategi pemerintah. Investor menunggu arah kebijakan fiskal, pengelolaan stabilitas ekonomi, langkah konkret penguatan mata uang rupiah, hingga solusi atas volatilitas pasar keuangan.

"Dalam jangka pendek, perhatian investor kini tertuju pada pidato Presiden Prabowo di sidang paripurna DPR," ujar Hendra kepada Kompas.com, Selasa malam.

Apabila penyampaian tersebut mampu menegaskan kepastian arah kebijakan, kedisiplinan anggaran, serta proteksi terhadap stabilitas pasar, sentimen investor diproyeksikan membaik. Dampak positifnya, IHSG memiliki ruang untuk mengalami technical rebound.

Sebaliknya, tekanan terhadap pasar keuangan domestik berisiko berlanjut jika pemerintah gagal menyajikan langkah konkret untuk mengembalikan reputasi investasi. Secara analisis teknikal, level 6.300 kini menjadi batas support psikologis yang sangat krusial bagi pergerakan IHSG.

Peluang pemulihan menuju rentang 6.500 sampai 6.535 dinilai masih terbuka lebar selama indeks mampu bertahan di atas batas psikologis tersebut. Namun, jika angka support itu jebol, risiko kejatuhan yang lebih dalam akan mengancam akibat munculnya krisis kepercayaan jangka pendek.

"Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung lebih selektif dan defensif dengan focus pada saham-saham ber-fundamental kuat, likuid, serta memiliki ketahanan terhadap pelemahan ekonomi dan gejolak nilai tukar," paparnya.

Hendra menambahkan bahwa bursa domestik saat ini tidak sekadar memerlukan stimulus positif melainkan sebuah kepastian. Ketika gejolak global mulai mereda namun IHSG tetap tertekan, hal itu menandakan investor sedang menanti kejelasan peta jalan ekonomi Indonesia.

"Besok, pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," tukas Hendra.

Artikel terkait

Rekomendasi