Tingginya penetrasi teknologi dan masifnya penggunaan media sosial telah menjadikan konten sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi Z. Fenomena ini menciptakan aktivitas konsumsi dan produksi konten yang sangat besar di Indonesia.
Dikutip dari Lifestyle, data laporan We Are Social dan Meltwater menunjukkan penduduk Indonesia menghabiskan waktu lebih dari tiga jam setiap harinya untuk berselancar di media sosial. Kondisi ini memicu munculnya fenomena social media fatigue akibat paparan informasi yang berlebihan.
Kelelahan digital tersebut membuat pengguna mulai lebih selektif dalam membagikan momen. Konten kini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi digital, melainkan alat untuk membangun identitas diri yang lebih terkonsep dan relevan secara sosial.
Merespons perubahan perilaku tersebut, PhotoBebaz mengembangkan pendekatan bernama designed experience. Strategi ini dirancang untuk memberikan pengalaman berfoto yang lebih matang, estetik, dan memiliki diferensiasi kuat dibanding konten instan dari kamera ponsel.
Founder PhotoBebaz, Reyno Anggoro, menjelaskan bahwa saat ini muncul kebutuhan terhadap pengalaman yang lebih terencana. Menurutnya, masyarakat tidak sekadar mencari hasil foto, melainkan momen unik yang layak untuk dibagikan ke ruang publik digital.
"Kalau sebelumnya semua orang cukup dengan kamera di ponsel, sekarang muncul kebutuhan untuk pengalaman yang terasa lebih matang. Orang tidak hanya mencari hasil foto, tapi juga momen yang berbeda dan layak untuk dibagikan," ujar Reyno Anggoro.
Platform creative-tech ini memanfaatkan celah dari homogenisasi konten yang sering terjadi di media sosial. PhotoBebaz mengubah booth foto menjadi ruang interaksi yang memungkinkan terciptanya output konten organik yang relevan bagi pengguna maupun brand mitra.
Pengembangan Teknologi dan Ekspansi Bisnis
Dukungan teknis dilakukan melalui Bebaz Labz, unit riset internal yang memastikan pengalaman di setiap booth konsisten dan dapat dikembangkan secara luas di berbagai titik lokasi. Sistem ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan bisnis yang inovatif dan terukur.
Hingga tahun 2026, PhotoBebaz menargetkan pengoperasian hingga 28 booth. Perusahaan melaporkan performa keuangan yang positif dengan kenaikan pendapatan mencapai 57 persen pada Kuartal I, didukung oleh berbagai kolaborasi strategis.
Pertumbuhan ini juga diperkuat melalui integrasi digital out-of-home (DOOH) dan program gamification yang menyasar Gen Z serta Gen Alpha. Ekspansi juga merambah ke acara besar seperti Sound Groove Festival, JakCloth, dan Java Jazz Festival pada Mei 2026.
"Ketika semua orang bisa membuat konten, yang menjadi pembeda adalah bagaimana momen itu diciptakan. Kami tidak hanya menghadirkan pengalaman berfoto, tetapi merancang bagaimana momen bisa terasa lebih bermakna, disimpan, dan secara bersamaan layak untuk dibagikan," kata Reyno Anggoro.
Perusahaan kini turut mengembangkan kanal B2B melalui Bebaz Adz untuk solusi media placement. Brand dapat terintegrasi secara fisik maupun digital dalam unit photobox, menciptakan pengalaman promosi yang menyatu dengan interaksi langsung para pengguna.