Sektor pertanian diperkirakan menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya risiko cuaca ekstrem dan potensi kekeringan selama periode musim kemarau 2026. Situasi ini mengancam produktivitas dan stabilitas pasokan pangan nasional jika tidak diantisipasi sejak awal.
Sebagai bentuk antisipasi nyata, ratusan petani dari berbagai kabupaten di Jawa Barat berkumpul dalam kegiatan temu lapangan di sentra produksi hortikultura cabai keriting, dilansir dari Media Indonesia. Acara ini menjadi sarana edukasi mengenai pengelolaan risiko, strategi budidaya saat cuaca panas, dan pemanfaatan varietas yang adaptif.
Para petani menerima pelatihan mengenai perubahan pola budidaya yang lebih efisien untuk menguatkan ketahanan pangan. Pembahasan berfokus pada pengaturan sumber daya air, ketepatan waktu tanam, efisiensi pemupukan, hingga pemilihan benih tangguh untuk lahan kering.
Inovasi yang diperkenalkan dalam pertemuan tersebut adalah benih cabai keriting TANGGUH 77 F1. Varietas hibrida ini dikembangkan khusus untuk menghadapi musim panas dengan keunggulan tahan terhadap Virus Gemini (GV), Busuk Batang, dan Layu Bakteri.
Benih TANGGUH 77 F1 memiliki adaptasi luas di dataran rendah hingga menengah dengan potensi hasil mencapai 21 ton per hektar. Masa panen varietas ini tergolong singkat, yaitu 73 hingga 75 hari setelah tanam (HST), yang penting untuk menjaga perputaran modal petani.
Adom, seorang petani cabai dari Desa Tugu Bandung, Kecamatan Kebandungan, Sukabumi, menyebut serangan virus sebagai ancaman utama saat musim panas. Dirinya menegaskan bahwa pemilihan varietas yang tepat menjadi penentu keberhasilan panen.
"Ketahanan virusnya memang luar biasa. Aman dan tidak kena virus. Buahnya juga bagus. Kondisi tanaman yang tetap sehat membuat petani lebih tenang dalam menjalani musim tanam di tengah cuaca yang tidak menentu," ujar Adom, Selasa (19/5).
Kolaborasi Multi-Sektor
General Manager Commercial PT East West Seed Indonesia (EWINDO), Budi Hariyono, menjelaskan bahwa petani merupakan pihak yang berhadapan langsung dengan risiko iklim. Dukungan inovasi dari swasta serta kebijakan pemerintah dinilai sangat mendesak.
"Penguatan sistem pangan tidak dapat bertumpu pada teknologi atau produk semata. Benih unggul hanya salah satu bagian. Keberhasilan pertanian sangat ditentukan oleh kolaborasi antara petani, sektor swasta, pemerintah, penyuluh, hingga akademisi," tegas Budi.