Mayoritas korporasi di tingkat global justru memilih untuk mempertahankan atau mempercepat pencapaian target iklim mereka. Langkah strategis ini diambil meski saat ini pengawasan politik terhadap isu keberlanjutan sedang mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Dikutip dari Lestari, riset terbaru dari PwC mengindikasikan bahwa semakin banyak entitas bisnis yang berada pada jalur tepat dalam mereduksi emisi. Hal ini mencakup operasional internal perusahaan maupun seluruh rantai bisnis yang mereka jalankan.
Hasil studi yang merujuk pada data ESG Today ini sekaligus menepis anggapan bahwa komitmen keberlanjutan mulai mengendur. Fokus dekarbonisasi saat ini justru mulai bergeser secara intensif ke arah penguatan rantai pasok perusahaan.
Perusahaan-perusahaan mulai mempermatang kolaborasi dengan para pemasok mereka untuk memastikan kepatuhan terhadap target iklim. Selain itu, terdapat peningkatan transparansi yang nyata dalam pelaporan emisi Scope 3 atau emisi tidak langsung.
Jumlah entitas yang melaporkan emisi Scope 3 tercatat mengalami kenaikan sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Data ini merupakan bagian dari laporan tahunan "State of Decarbonization" edisi ketiga yang disusun oleh PwC.
Dalam laporannya, PwC melakukan analisis mendalam terhadap 3.547 perusahaan dari berbagai sektor industri dan wilayah. Data diambil dari berbagai dokumen resmi, mulai dari laporan keberlanjutan hingga keterbukaan informasi lingkungan (CDP).
Komitmen Terhadap Target Dekarbonisasi
Sebanyak 82 persen perusahaan tercatat konsisten mempertahankan atau bahkan mempercepat komitmen iklim mereka selama setahun terakhir. Angka ini relatif stabil dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 84 persen.
Walaupun pertumbuhan jumlah perusahaan yang menetapkan target dekarbonisasi baru melambat menjadi 7 persen, kualitas target tersebut kini menjadi lebih ketat. Sebagian besar target yang ditetapkan saat ini telah diverifikasi oleh pihak eksternal atau selaras dengan sains.
PwC menemukan bahwa 69 persen perusahaan kini berada di jalur yang benar untuk mencapai target Scope 1 (emisi langsung) dan Scope 2 (emisi energi). Kemajuan ini tetap terjadi meskipun dunia usaha sempat diguncang fluktuasi harga energi.
Investasi global untuk efisiensi energi di sektor industri juga melonjak pesat. Antara tahun 2020 hingga 2025, nilai investasi tersebut naik 45 persen hingga mencapai angka sekitar 30 miliar dolar AS atau setara dengan Rp520,47 triliun.
Tantangan dan Integrasi Teknologi AI
Terdapat sejumlah hambatan yang diprediksi dapat memperlambat kemajuan pengurangan emisi di masa depan. Salah satu tantangan utamanya adalah perebutan sumber daya energi akibat ekspansi pusat data dan pertumbuhan kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, sebanyak 56 persen perusahaan optimistis dapat mencapai target emisi Scope 3 mereka pada tahun 2025. Angka ini terus menunjukkan tren positif dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran 50 hingga 54 persen.
Sekitar 64 persen perusahaan kini telah memiliki program dekarbonisasi terstruktur bagi para mitra bisnis mereka. Bahkan, 76 persen perusahaan sudah menetapkan syarat wajib dekarbonisasi bagi pemasok, meningkat drastis dari 51 persen pada dua tahun lalu.
Terkait pemanfaatan teknologi, 60 persen perusahaan mengaku telah mulai menggunakan AI dalam inisiatif keberlanjutan. Namun, pemanfaatan ini masih dalam tahap awal karena kurang dari 1 persen perusahaan yang mampu menghitung dampak pastinya terhadap pengurangan emisi.
PwC menekankan bahwa peluang jangka pendek AI terletak pada perbaikan sistem data keberlanjutan. Saat ini, baru 14 persen perusahaan yang melaporkan penggunaan AI secara terbuka untuk memperbaiki pelaporan emisi mereka.