Sektor transportasi dan pergudangan di Indonesia mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 8,04 persen secara tahunan pada kuartal I/2026. Capaian ini dilansir dari Ekonomi terjadi seiring meningkatnya pergerakan masyarakat selama masa libur nasional dan hari raya keagamaan pada periode awal tahun tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa kontribusi sektor ini mencapai 0,38 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang tumbuh di angka 5,61 persen. Kenaikan tersebut ditopang oleh semua moda transportasi yang mencatatkan penambahan jumlah penumpang secara konsisten.
"Ditopang oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang tercermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi," ujar Amalia, Kepala BPS dalam konferensi pers, Senin (5/5/2026).
Data BPS menunjukkan pertumbuhan ini berbanding lurus dengan konsumsi rumah tangga pada komponen transportasi dan komunikasi yang naik 6,91 persen. Selain itu, geliat aktivitas pada sektor hotel dan restoran juga terpantau meningkat sebesar 7,38 persen pada kuartal pertama tahun ini.
Faktor lain yang mendorong tren positif ini adalah pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI/Polri, serta karyawan swasta yang memicu kenaikan jumlah perjalanan wisatawan lokal maupun mancanegara. Jika dibandingkan, pertumbuhan tahun ini melampaui kuartal I/2025 yang tumbuh 9,01 persen dan kuartal I/2024 sebesar 8,65 persen.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core), Mohammad Faisal, memberikan catatan bahwa pertumbuhan ini dipengaruhi oleh faktor low base effect. Menurutnya, momentum mudik Lebaran tahun lalu jatuh pada kuartal kedua, sementara tahun ini bergeser ke akhir Maret atau masuk kuartal pertama.
"Jadi memang ada faktor low base effect juga, terutama mobilitas mudik yang tahun lalu masuk kuartal kedua, tahun ini masuk kuartal satu," ujar Faisal, Direktur Eksekutif Core.
Faisal juga menyoroti adanya pergeseran pola mobilitas masyarakat akibat lonjakan harga tiket pesawat dan avtur yang mencapai 40 hingga 50 persen. Hal ini menyebabkan penurunan minat masyarakat untuk menggunakan transportasi udara dalam beberapa tahun terakhir.
"Dalam kondisi harga avtur belum naik saja, minat masyarakat menggunakan pesawat sudah makin berkurang. Sekarang harga tiket naik sampai 40%-50%, tentu makin menurunkan minat masyarakat," katanya.
Tekanan harga tiket pesawat tersebut membuat masyarakat mulai beralih ke moda transportasi yang lebih ekonomis seperti kereta api dan kapal laut. Faisal memprediksi penumpang pesawat ke depan akan didominasi oleh maskapai berbiaya rendah atau perjalanan bisnis.
"Jadi mungkin tinggal swasta dan BUMN yang masih bisa diharapkan untuk tetap menggunakan pesawat dalam perjalanan-perjalanan bisnisnya," tuturnya.