Piutang Multifinance Maret 2026 Tumbuh Melambat Jadi Rp514 Triliun

Piutang Multifinance Maret 2026 Tumbuh Melambat Jadi Rp514 Triliun
Foto: Ilustrasi Piutang Multifinance Maret 2026 Tumbuh Melambat Jadi Rp514 Triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan piutang pembiayaan industri multifinance mencapai Rp514,09 triliun pada Maret 2026 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 0,61 persen. Capaian yang dilansir dari Finansial ini menunjukkan tren perlambatan dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya di tengah dinamika ekonomi nasional.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, Agusman, dalam konferensi pers daring RDK OJK pada Selasa, 5 Mei 2026. Meskipun melambat secara tahunan, industri ini masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,38 persen jika dibandingkan secara bulanan.

"Hal ini didukung terutama oleh peningkatan pembiayaan modal kerja kerja sebesar 6,15% year on year," tutur Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK.

Agusman menjelaskan bahwa profil risiko industri masih berada dalam kategori aman dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross sebesar 2,38 persen. Indikator kesehatan keuangan lainnya juga menunjukkan angka yang stabil.

"Gearing ratio dari perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,17 kali atau berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali," ucap Agusman.

Mengenai kepatuhan permodalan, OJK mencatat terdapat 8 dari 144 perusahaan pembiayaan yang belum memenuhi modal inti minimum Rp100 miliar. Agusman menyebutkan perusahaan-perusahaan tersebut telah menyerahkan rencana aksi untuk pemenuhan modal melalui investor strategis maupun merger.

"OJK berharap upaya penegakan kepatuhan dan pengenaan sanksi tersebut dapat mendorong pelaku industri sektor PVML meningkatkan aspek tata kelola yang baik, kehati hatian, dan pemenuhan terhadap ketentuan yang berlaku sehingga pada akhirnya dapat berkinerja lebih baik dan berkontribusi secara optimal," jelas Agusman.

Tantangan ekonomi global dan domestik menjadi faktor yang diwaspadai karena dapat mempengaruhi kualitas penyaluran kredit. OJK menekankan pentingnya manajemen risiko dan perlindungan konsumen dalam operasional perusahaan.

"Untuk itu, perusahaan perlu terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas portofolio, mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta menjaga pelindungan konsumen," ucap Agusman.

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengidentifikasi bahwa daya beli masyarakat menjadi kunci utama pertumbuhan sektor ini. Hal tersebut berdampak langsung pada permintaan kendaraan bermotor dan barang elektronik.

"Daya beli masyarakat pun menjadi satu hal yang tentu menjadi catatan khusus. Harapan kami juga lapangan pekerjaan tetap ada, masyarakat tetap mendapatkan income, baik dari pengusaha UMKM, baik yang bekerja dan segalanya agar roda perekonomian terus bergerak," kata Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI.

Suwandi menambahkan bahwa industri sangat bergantung pada permintaan ritel dan berharap intervensi moneter serta fiskal pemerintah mampu menjaga stabilitas pasar. Faktor eksternal seperti geopolitik juga menjadi perhatian pelaku usaha.

"Tapi tentunya pemerintah akan lebih tahu bagaimana mengelola secara moneter maupun secara fiskal. Apabila ini dikelola dengan baik, terus turun ke masyarakat, nanti bisa juga menciptakan lapangan pekerjaan, harapannya pemerintah juga bisa mengundang investor, dan harapan lainnya juga adalah orang tetap berbelanja, khususnya di industri pembiayaan," jelas Suwandi.

Meskipun terjadi perlambatan di awal tahun, APPI tetap optimis terhadap target jangka panjang industri multifinance hingga akhir tahun ini. Kolaborasi dengan regulator terus diperkuat untuk mencapai sasaran pertumbuhan.

"Tentunya secara industri kami mempunyai target yang dicanangkan bersama ya. Artinya bahwa bersama dengan OJK kami menginginkan kalau bisa tahun 2026 ini kita tumbuh 6% minimal," tutup Suwandi.

Di tingkat perusahaan, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) melaporkan piutang pembiayaan yang dikelola tumbuh 5,5 persen secara tahunan menjadi Rp26,8 triliun per kuartal I/2026. Sebagian besar penyaluran dialokasikan untuk modal kerja.

"Stabilnya penyaluran ini mencerminkan resiliensi bisnis Perusahaan di tengah ketidakpastian, sekaligus menunjukkan konsistensi dalam menerapkan prinsip selektivitas dan disiplin risiko," ucap Sutadi, Presiden Direktur BFI Finance.

Sementara itu, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatat pertumbuhan piutang sebesar 18 persen menjadi Rp64,7 triliun pada periode yang sama. Perusahaan mencatat kenaikan nasabah aktif dari 2,0 juta menjadi 2,6 juta orang.

"Pada saat yang sama, Perusahaan juga terus memperluas jangkauan operasional dengan mengoperasikan 879 jaringan usaha [termasuk cabang dan satelit] diseluruh indonesia yang diikuti dengan peningkatan jumlah pelanggan aktif dari 2,0 juta nasabah pada 1Q25 menjadi 2,6 juta nasabah pada 1Q26," kata Dewa Made Susila, Direktur Utama Adira Finance.

Artikel terkait

Rekomendasi