Sejumlah kelompok bank dengan modal inti (KBMI) IV mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang ekspansif pada kuartal I/2026 di tengah kondisi ekonomi domestik yang pulih, sebagaimana dilansir dari Finansial. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) memimpin kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 20,10 persen secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, realisasi kredit BNI melonjak menjadi Rp919,31 triliun dari posisi Rp765,46 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tren positif ini diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) yang menyalurkan kredit senilai Rp1.497,27 triliun atau tumbuh 13,90 persen secara tahunan.
PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) turut mencatatkan kenaikan penyaluran dana sebesar 5,43 persen hingga Maret 2026 dengan nilai total Rp980,59 triliun. Sebaliknya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencatat penurunan angka kredit sebesar 3,52 persen menjadi Rp1.568,08 triliun akibat dampak akuntansi de-konsolidasi anak usaha syariahnya.
Data Bank Indonesia menunjukkan total kredit perbankan nasional per Maret 2026 mencapai Rp8.516,0 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kredit korporasi yang naik 14,0 persen serta kredit modal kerja yang tumbuh 4,0 persen, meskipun sektor konsumsi mengalami perlambatan akibat penurunan pembiayaan kendaraan bermotor.
| Nama Bank | Total Kredit (Triliun Rp) | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Bank Mandiri | 1.568,08 | -3,52% |
| BRI | 1.497,27 | 13,90% |
| BCA | 980,59 | 5,43% |
| BNI | 919,31 | 20,10% |
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan bahwa kinerja perusahaan didorong oleh momentum hari raya keagamaan pada awal tahun ini. Pihaknya tetap mengedepankan aspek manajemen risiko dalam setiap penyaluran dana kepada nasabah.
ÔÇ£Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden,ÔÇØ kata Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyatakan bahwa perusahaan tetap fokus pada sektor yang prospektif meskipun terjadi koreksi angka konsolidasian. Strategi pertumbuhan yang disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian pasar global.
ÔÇ£Kredit kami proyeksikan tumbuh sejalan dengan pertumbuhan industri,ÔÇØ kata Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri.
Ekonom Global Market Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memberikan pandangan terkait anomali pada angka Bank Mandiri yang terlihat menyusut. Hal tersebut merupakan dampak teknis dari pemisahan laporan keuangan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. yang mulai berlaku awal 2026.
ÔÇ£BSI pernah menyumbang signifikan, 16ÔÇö17% dari total kredit Bank Mandiri pada 2025. Setelah deconsolidation, angka historis kuartal I/2025 tidak disesuaikan pro-forma di beberapa laporan, sehingga terlihat ÔÇÿkontraksiÔÇÖ,ÔÇØ jelas Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai dinamika ini menunjukkan bahwa bank besar lebih memprioritaskan kualitas aset dibandingkan sekadar mengejar target angka. Penurunan portofolio pada bank tertentu sering kali disebabkan oleh pelunasan fasilitas kredit besar oleh korporasi atau strategi mitigasi risiko.
ÔÇ£Dalam kondisi seperti ini, bank cenderung lebih memilih menjaga kualitas, memperkuat pencadangan, dan mengurangi eksposur pada segmen yang risikonya naik daripada mengejar pertumbuhan agresif,ÔÇØ tutur Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Josua memprediksi pertumbuhan kredit agregat untuk kelompok KBMI IV hingga akhir tahun 2026 akan berada pada kisaran 8 hingga 11 persen. Target ini dianggap realistis selama didukung oleh realisasi belanja pemerintah, hilirisasi industri, serta permintaan modal kerja yang tetap stabil hingga semester kedua.
ÔÇ£Sepanjang 2026, perbankan KBMI IV masih akan menjadi motor kredit nasional, tetapi strategi terbaiknya bukan ekspansi merata ke semua segmen, melainkan pertumbuhan yang disiplin pada debitur dan sektor yang benar-benar memiliki arus kas kuat,ÔÇØ pungkas Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.