Sektor industri skincare dan produk kecantikan nasional diproyeksikan tetap memiliki prospek cerah dengan nilai pasar menembus lebih dari US$10 miliar pada 2026. Tingginya permintaan masyarakat terhadap perawatan diri menjadi faktor utama ketahanan sektor ini di tengah perlambatan ekonomi global, Minggu (10/5/2026).
Dilansir dari Ekonomi, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan bahwa produk kosmetik merupakan kategori barang konsumsi dengan perputaran cepat. Permintaan pada segmen ini tetap tinggi meskipun kondisi ekonomi sedang tidak stabil.
"Groceries untuk beauty product masih akan cukup tinggi permintaannya, makanya di setiap ritel modern selalu ada segmen khusus untuk beauty product," ujar Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Celios.
Kecenderungan masyarakat untuk tetap membeli produk kecantikan demi kepuasan pribadi di tengah keterbatasan finansial dikenal sebagai fenomena lipstick effect. Hal ini menjadi alasan mengapa industri tersebut mampu bertahan saat terjadi depresi ekonomi.
"Maka dari itu, industri ini masih bertahan ketika ada depresi ekonomi karena ketika keuangan mereka terbatas, mereka akan naik kepuasan dengan berdandan," tutur Nailul Huda.
Persaingan pasar saat ini semakin ketat akibat masifnya penjualan melalui platform daring, namun ritel modern masih berpeluang melalui strategi harga. Konsumen lokal yang sangat sensitif terhadap harga membuat promo menjadi senjata utama untuk bersaing dengan merek global.
Pemerintah diharapkan memberikan proteksi lebih kuat bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) melalui instrumen tarif maupun non-tarif. Langkah ini krusial guna membentengi industri domestik dari tekanan produk kosmetik impor.
"Perlu adanya proteksi terhadap barang-barang kosmetik impor. Beri perlindungan melalui berbagai instrumen perdagangan international," kata Nailul Huda.
Optimalisasi pengawasan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga didorong untuk memberantas produk ilegal. Pengawasan yang ketat dinilai akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk lokal.
"Dari dalam negeri, iklim industri harus dibangun dengan baik," sebut Nailul Huda.
Kementerian Perindustrian menempatkan sektor kosmetik sebagai subsektor prioritas dengan kinerja ekspor yang meningkat dari US$416,8 juta pada 2024 menjadi US$473,8 juta pada 2025. Data BPOM menunjukkan saat ini terdapat 1.684 industri kosmetik di Indonesia dengan dominasi 85 persen dari skala kecil dan menengah.
| Indikator Pasar | Tahun 2024 | Tahun 2025 | Proyeksi 2026 |
|---|---|---|---|
| Nilai Pasar (USD) | - | 9,74 Miliar | > 10 Miliar |
| Nilai Ekspor (USD) | 416,8 Juta | 473,8 Juta | - |
| Pertumbuhan Tahunan | - | 4,33% - 4,37% | > 5,5% |