Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 yang didorong kuat oleh permintaan domestik serta konsumsi pemerintah, sebagaimana dilansir dari Money pada Rabu (6/5/2026). Capaian ini menjadi angka pertumbuhan kuartalan tertinggi dalam 14 periode terakhir.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melaporkan bahwa konsumsi pemerintah melonjak hingga 21,81 persen secara tahunan akibat realisasi belanja pegawai dan pembayaran THR. Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 54 persen terhadap PDB tumbuh 5,52 persen.
"Ini menunjukkan secara headline growth ekonomi Indonesia masih cukup resilien, terutama ditopang oleh permintaan domestik," ujar Shinta Kamdani, Ketua Umum Apindo.
Shinta menjelaskan bahwa dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) mengalami pertumbuhan 5,96 persen. Namun, ia memberikan catatan mengenai transmisi pertumbuhan yang belum merata ke aktivitas bisnis riil karena adanya kontraksi kuartalan sebesar 0,77 persen.
"Dunia usaha menghadapi situasi asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi tetapi manfaatnya belum terdistribusi merata, sementara tekanan biaya meningkat," kata Shinta Kamdani, Ketua Umum Apindo.
Pelemahan nilai tukar rupiah dari Rp 16.800 menjadi sekitar Rp 17.400 per dollar AS turut menambah beban biaya produksi, khususnya pada industri yang mengandalkan bahan baku impor. Hal ini menyebabkan margin usaha tertekan dan menghambat rencana ekspansi pelaku usaha.
"Ini bisa dikategorikan sebagai externally driven pressure on an otherwise resilient economy," ujar Shinta Kamdani, Ketua Umum Apindo.
Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh pesat sebesar 13,14 persen, diikuti transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen. Sebaliknya, sektor manufaktur hanya tumbuh 5,04 persen secara tahunan, bahkan industri karet dan plastik terkontraksi hingga 9,01 persen akibat lonjakan harga bahan baku naphtha.
| Sektor Ekonomi | Pertumbuhan Tahunan (%) |
|---|---|
| Akomodasi dan Makan Minum | 13,14 |
| Transportasi dan Pergudangan | 8,04 |
| Jasa Kesehatan | 7,62 |
| Perdagangan Besar dan Eceran | 6,26 |
| Manufaktur (Rata-rata) | 5,04 |
Apindo memandang ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi global sebagai tantangan utama bagi stabilitas ekonomi nasional ke depan. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat nilai tukar dan menjaga daya saing industri padat karya.