Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 5,61 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal pertama 2026 meski menghadapi tekanan sentimen global. Angka pertumbuhan tersebut melampaui prediksi para analis dan mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang tetap tangguh, dilansir dari Investor Daily.
Kondisi ekonomi riil yang melaju kencang ini berbanding terbalik dengan valuasi harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang saat ini dinilai cukup murah. Rasio harga terhadap laba (PE ratio) IHSG terpantau berada pada kisaran 10 hingga 12 kali, yang merupakan level di bawah standar historis bursa regional.
Tekanan pada IHSG juga dipengaruhi oleh hasil tinjauan MSCI Mei 2026 yang menghapus 18 saham Indonesia dari indeks global. Sebanyak enam saham dikeluarkan dari Global Standard Index dan 13 saham dari Small Cap Index tanpa adanya penambahan emiten baru, yang mulai efektif berlaku pada 29 Mei 2026.
Meskipun terjadi koreksi pasar dari level 9.000-an, periode setelah rebalancing indeks tersebut diprediksi menjadi momentum masuk bagi para investor. Selain valuasi yang menarik, daya tarik pasar modal saat ini didorong oleh tingginya imbal hasil dividen (dividend yield) dari emiten-emiten besar.
Emiten sektor perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, serta sektor energi dan konsumer seperti PGAS, AKRA, UNVR, dan INDF dilaporkan tetap konsisten membagikan laba. Banyak dari perusahaan tersebut menawarkan imbal hasil antara 4 persen hingga 11 persen, melampaui bunga deposito yang berada di kisaran 4 persen sampai 5 persen.
Struktur pasar modal Indonesia diharapkan semakin kuat dengan peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai katalisator. Lembaga ini diproyeksikan akan memimpin alokasi modal pada sektor teknologi, energi hijau, hingga hilirisasi mineral guna meningkatkan efisiensi aset negara.
Data Fitch Research 2026 menunjukkan bahwa Danantara berpotensi meraup dividen lebih dari Rp 140 triliun untuk diperkuat kembali ke pasar modal. Hal ini memberikan kepastian bagi para pemegang saham BUMN terkait potensi peningkatan valuasi dan tata kelola perusahaan di masa depan.
Investor dapat memilih berbagai platform sekuritas yang diawasi OJK seperti Pluang yang menyediakan akses ke 950 lebih saham Indonesia dan produk investasi global lainnya. Selain itu, terdapat opsi lain seperti Growin' dari Mandiri Sekuritas, Semesta Online Trading, Trima+ dari Trimegah, serta layanan dari BCA Sekuritas.