PT Pertamina (Persero) mengadakan pertemuan strategis dengan United States of America (US) Department of Energy (DOE) di Washington, DC, Amerika Serikat, pada Senin (11/5/2026). Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkokoh ketahanan energi nasional melalui kolaborasi teknologi dan keamanan pasokan.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh jajaran petinggi kedua pihak, termasuk Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan sejumlah pejabat senior DOE seperti Elizabeth Urbanas serta Aleshia Duncan. Dilansir dari Nasional, diskusi difokuskan pada penguatan perdagangan energi, pengembangan teknologi migas nonkonvensional, serta stabilitas pasokan energi berkelanjutan.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menjelaskan bahwa Amerika Serikat merupakan mitra krusial bagi Indonesia, terutama karena pertumbuhan konsumsi energi di kawasan Asia Pasifik yang sangat cepat membutuhkan jaminan ketersediaan yang terjangkau.
"Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat kemitraan strategis dengan AS untuk mendukung keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas sektor energi nasional," jelas Oki Muraza, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero).
Amerika Serikat tercatat sebagai pemasok utama kebutuhan energi Indonesia, di mana lebih dari 70 persen impor liquefied petroleum gas (LPG) nasional berasal dari negara tersebut. Pada tahun 2025, volume impor LPG dari AS mencapai sekitar 5 juta metric ton (MT).
Guna menjamin stabilitas harga domestik, Pertamina mengusulkan penguatan kerja sama melalui skema kontrak jangka panjang (LTC). Selain LPG, perusahaan juga mengeksplorasi potensi impor minyak mentah jenis light sweet crude guna mendukung program Refinery Development Master Plan (RDMP).
Kedua pihak juga mendalami peluang pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan Strategic Petroleum Reserve (SPR). Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi adanya gangguan pada rantai pasok energi global di masa depan melalui infrastruktur penyimpanan yang lebih mumpuni.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita menekankan bahwa penguatan hubungan ini menjadi momentum krusial bagi peningkatan nilai tambah sektor energi Indonesia di mata internasional.
"Pertamina memandang kerja sama ini sebagai peluang untuk mempercepat pengembangan teknologi migas, meningkatkan kapasitas SDM, serta membuka akses investasi yang mendukung kemandirian dan keberlanjutan energi nasional," jelas Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary PT Pertamina (Persero).
Dalam sektor hulu, Pertamina mendorong kolaborasi teknologi seperti digital oilfield dan advanced drilling guna mengoptimalkan produksi migas konvensional. Rencana kerja sama ke depan mencakup pelaksanaan proyek percontohan, transfer teknologi, serta peningkatan investasi pada sektor migas nonkonvensional.