PT Pertamina (Persero) terus mengupayakan penyaluran energi ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, melalui Fuel Terminal Dobo pada Kamis (7/5/2026). Langkah ini dilakukan guna memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat di tengah tantangan geografis yang ekstrem.
Kebutuhan energi di wilayah pelosok Indonesia Timur tersebut menjadi prioritas untuk mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi penduduk setempat. Dilansir dari Detik Finance, tantangan utama yang dihadapi dalam proses distribusi ini adalah akses infrastruktur yang terbatas serta medan jalan yang panjang.
Supervisor 1 Receiving, Storage, and Distribution (RSD) di Fuel Terminal Dobo, Gigi Aji Cicaksono, menjelaskan peran krusial perusahaan negara tersebut dalam menjaga stabilitas pasokan energi di wilayah terpencil.
"Jadi negara melalui Pertamina hadir di masyarakat untuk mensuplai BBM di sana. Karena BBM merupakan hal yang sangat penting dan vital bagi masyarakat untuk mendukung ekonomi masyarakat di langsung. Untuk keperlangsungan ekonomi masyarakat di sana," ujar Gigi Aji Cicaksono, Supervisor 1 Receiving, Storage, and Distribution (RSD) di Fuel Terminal Dobo.
Penyaluran bahan bakar di Fuel Terminal Dobo diawali dengan pengangkutan menggunakan kapal tanker milik Pertamina. Setelah tiba, muatan disimpan sebelum diteruskan ke lembaga penyalur menggunakan moda transportasi darat atau kapal tangki yang lebih kecil.
"Singkatnya ini, kami, saya dan tim RSD itu sebagai garda terdepan sebelum BBM diterima di masyarakat. Jadi dari prosesnya itu kami menerima BBM dari kapal. Kemudian kami simpan di storage kami. Lalu kemudian kami distribusikan ke masyarakat melalui moda transportasi yang selanjutnya," jelas Gigi.
Alur pengiriman berlanjut dari fasilitas penyimpanan menuju pool tangki, yang kemudian diteruskan kembali ke kapal-kapal distribusi. Armada tersebut bergerak menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tersebar di berbagai pulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.
"Jadi dari proses penerimaan tadi, kami salurkan melalui pool tengki. Kemudian dari mobil tengki, disalurkan lagi ke kapal-kapal untuk didistribusikan ke SBPU-SBPU yang ada di seluruh pulau di Kabupaten Kepulauan Aru," sambung Gigi.
Kendala alam berupa perubahan cuaca yang tidak menentu di Dobo sering kali menghambat jadwal distribusi resmi. Pengiriman yang dalam kondisi normal memakan waktu dua hingga tiga hari dapat membengkak hingga dua minggu jika cuaca memburuk.
"Tantangan terbesar kami itu dari segi alam, cuaca, terutama pada saat pengiriman BBM ke pulau-pulau sendiri. Karena cuaca di Dobo ini berubah-berubah. Itu menghalangi proses pengiriman BBM dari Dobo ke lembaga penyalur, yang estimasi awalnya itu dari 3 hari bisa molor bahkan sampai 14 hari," terang Gigi.
Meskipun harus melalui rintangan logistik yang berat, pihak Pertamina memberikan jaminan bahwa standar produk tidak mengalami penurunan. Pengawasan ketat diberlakukan mulai dari titik serah terima hingga sampai ke tangan konsumen di pelosok.
"Tentunya untuk mitigasi resikonya sendiri, kami melakukan penyegelan di mobil tengki. Kami melakukan pengawasan dari segi titik seterah terima sampai ke titik suplainya di SBPU, dan kami pastikan juga bahwasannya kualitas BBM yang diterima di pelosoknya Dobo dengan di Jakarta ini masih tetap sama," tegas Gigi.