PT Pertamina (Persero) secara resmi melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai diberlakukan pada Senin, 4 Mei 2026. Kebijakan ini menyasar produk beroktan tinggi dan bahan bakar diesel guna merespons kondisi pasar terkini.
Dilansir dari Otomotif, kenaikan harga mencakup produk Pertamax Turbo yang kini dibanderol Rp 19.900 per liter dari harga sebelumnya Rp 19.400. Sektor diesel mengalami lonjakan paling signifikan dengan harga Dexlite naik menjadi Rp 26.000 per liter dan Pertamina Dex menyentuh angka Rp 27.900 per liter.
| Jenis BBM | Harga Lama (Rp) | Harga Baru (Rp) |
|---|---|---|
| Pertamax Turbo | 19.400 | 19.900 |
| Dexlite | 23.600 | 26.000 |
| Pertamina Dex | 23.900 | 27.900 |
| Pertamax | 12.300 | 12.300 |
| Pertalite | 10.000 | 10.000 |
| Biosolar Subsidi | 6.800 | 6.800 |
Kenaikan harga pada lini nonsubsidi ini mulai memicu perubahan perilaku konsumen di lapangan. Di Jalan Dr. Sutomo, Padang, antrean kendaraan pengisi Biosolar terpantau mengular hingga ke luar area SPBU pada Senin, 20 April 2026, akibat peralihan pengguna dari BBM diesel nonsubsidi.
Fenomena perpindahan penggunaan bahan bakar ke kualitas yang lebih rendah memicu perhatian akademisi terkait kesehatan mesin. Jayan Sentanuhady, Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), memperingatkan bahwa penggunaan solar berkualitas rendah secara langsung akan menggerus performa mesin diesel kendaraan.
"Performa akan turun, perlu perawatan lebih sering, emisi gas buang yang dihasilkan akan lebih buruk," ujar Jayan, Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM).
Menurut penjelasan Jayan, solar berkualitas rendah mengandung zat yang tidak dapat terbakar secara sempurna dalam ruang bakar. Kondisi ini memicu munculnya endapan residu pada komponen vital seperti injektor dan filter bahan bakar yang mempercepat keausan mesin.
Selain masalah teknis internal, pemilihan bahan bakar buruk juga berdampak pada lingkungan melalui pelepasan polutan yang lebih tinggi. Pembakaran yang tidak optimal menghasilkan asap knalpot lebih pekat yang berkontribusi signifikan terhadap penurunan kualitas udara.