Pertamina tengah menjajaki penguatan kemitraan strategis dengan perusahaan migas asal Amerika Serikat, EOG Resources. Langkah ini diambil guna mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) di skala nasional.
Seperti dikutip dari Ekonomi, pertemuan tersebut melibatkan Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, bersama jajaran petinggi EOG Resources, yakni Joe Korenek dan Jonathan Chung.
Fokus pembicaraan kedua belah pihak tertuju pada peluang pengembangan lanjutan dari kolaborasi yang sudah terjalin sebelumnya. Salah satu poin utamanya adalah pengembangan reservoir non-konvensional di wilayah Indonesia.
Dalam diskusi intensif tersebut, Pertamina dan EOG Resources mengeksplorasi penguatan implementasi teknologi mutakhir. Hal ini bertujuan untuk mendongkrak produktivitas reservoir melalui berbagai metode teknis canggih.
Teknologi yang menjadi bahasan meliputi multi-stage hydraulic fracturing, horizontal drilling, hingga optimasi desain fraktur. Berbagai aspek tersebut selama ini menjadi keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh EOG Resources.
Oki Muraza menyampaikan bahwa penguatan kerja sama ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam meningkatkan produksi migas nasional.
"Pertamina saat ini fokus pada pengembangan lapangan eksisting sekaligus mendorong pengembangan reservoir non-konvensional. Untuk itu, kami terus memperkuat kapabilitas, pengetahuan, dan penguasaan teknologi guna mendukung optimalisasi produksi secara berkelanjutan," ujarnya.
Dukungan Kebijakan dan Investasi
Selain aspek teknis, pertemuan ini juga membahas mengenai perkembangan dukungan kebijakan yang sedang digodok di Indonesia. Regulasi tersebut dirancang untuk mempercepat pengembangan sektor migas non-konvensional.
Kebijakan baru ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem investasi yang lebih kompetitif. Selain itu, regulasi tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum bagi penerapan teknologi tinggi di lapangan produksi.
EOG Resources dinilai memiliki kapasitas yang sangat relevan bagi kebutuhan Indonesia. Perusahaan ini memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola shale serta tight reservoir melalui efisiensi operasional yang tinggi.
Upaya penjajakan ini menjadi langkah krusial untuk mempercepat adopsi teknologi dalam mengelola reservoir non-konvensional yang dikenal memiliki kerumitan teknis tinggi.
Melalui kerja sama ini, Pertamina berharap potensi sumber daya migas non-konvensional dapat segera direalisasikan. Hal ini diproyeksikan menjadi pilar baru bagi ketahanan energi Indonesia di masa depan.