Pertamina Dorong Peran NOC untuk Jaga Ketahanan Energi Nasional

Pertamina Dorong Peran NOC untuk Jaga Ketahanan Energi Nasional
Foto: Ilustrasi Pertamina Dorong Peran NOC untuk Jaga Ketahanan Energi Nasional.

Perusahaan minyak milik negara atau National Oil Company (NOC) memegang peran vital dalam menjaga ketahanan energi sekaligus menyokong pertumbuhan ekonomi domestik. Peran krusial ini dilansir dari Detik Finance di tengah eskalasi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi pasar global, dan transisi energi.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menilai fungsi NOC melampaui entitas bisnis murni karena mengemban mandat negara dalam menjaga stabilitas pasokan energi.

"Selain memberikan kontribusi bagi penerimaan negara, NOC juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketahanan energi. Karena itu, strategi pengembangan energi tidak hanya bertumpu pada minyak, tetapi juga perlu memperkuat peran gas bumi sebagai energi transisi yang mampu menyediakan energi lebih terjangkau dengan emisi yang lebih rendah," ujar Oki dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi bertema Global Challenges: NOCs at the Heart of Energy Resilience pada rangkaian gelaran IPA Convex ke-50. Oki menambahkan bahwa aktivitas hilirisasi yang dijalankan NOC mampu menciptakan efek berantai, membuka lapangan kerja baru, dan memaksimalkan nilai tambah sumber daya nasional.

Pertamina terus memperkuat jaringan kolaborasi dengan pemerintah, mitra strategis, dan institusi finansial demi merealisasikan proyek energi skala besar. Integrasi yang solid antara negara dan korporasi terbukti menjadi faktor penentu dalam mewujudkan ketahanan energi jangka panjang di kancah global.

Proyek LNG Mozambique menjadi salah satu contoh konkret yang mendapatkan sokongan penuh dari Pemerintah Jepang melalui berbagai instrumen negara. Pemerintah Jepang mengoptimalkan kelayakan proyek melalui partisipasi ekuitas JOGMEC, pembiayaan JBIC, asuransi NEXI, serta komitmen offtaker jangka panjang dari perusahaan seperti JERA.

"Contoh global menunjukkan bahwa proyek energi strategis membutuhkan arsitektur dukungan yang kuat. Pemerintah dapat berperan melalui pembiayaan, asuransi, kepastian pasar, dan kebijakan yang membuat proyek menjadi bankable. Dengan begitu, NOC dapat menjalankan mandat ketahanan energi secara lebih efektif, tetapi tetap menjaga disiplin investasi," tutur Oki.

Peningkatan Produksi Domestik dan Ekspansi Internasional

Langkah strategis lainnya yang menjadi fokus Pertamina adalah memacu produksi migas domestik guna memperkecil celah antara kapasitas pengolahan kilang dan volume produksi nasional. Saat ini kapasitas pengolahan kilang Pertamina berada di angka 1 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak mentah domestik berkisar 600 ribu barel per hari.

"Kami terus menjalankan berbagai inisiatif untuk meningkatkan produksi. Pada saat yang sama, kami juga memperkuat portofolio gas bumi melalui partisipasi dalam proyek-proyek strategis," kata Oki.

Di samping mengoptimalkan operasi di dalam negeri, Pertamina memperluas portofolio internasional secara selektif untuk memperkuat pasokan energi nasional. Komunikasi intensif dan keterlibatan berkelanjutan dengan pemangku kepentingan menjadi kunci penyelarasan regulasi, keekonomian proyek, dan target pembangunan.

Pertamina memaksimalkan keunggulan kompetitif sebagai perusahaan energi terintegrasi yang menguasai ekosistem bisnis dari hulu ke hilir. Kemitraan strategis dimanfaatkan untuk menekan risiko operasional sekaligus mempercepat penyerapan peluang bisnis baru.

"Kolaborasi dengan sesama NOC maupun International Oil Company membantu menurunkan risiko, memperkuat disiplin investasi, serta mempercepat pengembangan berbagai peluang bisnis yang mendukung ketahanan energi," jelas Oki.

Potensi Besar Investasi Energi di Kawasan ASEAN

Kawasan Asia Tenggara atau ASEAN menjadi magnet investasi energi global karena didukung oleh pasar yang luas, pertumbuhan permintaan yang masif, serta stabilitas keamanan. Lonjakan permintaan energi di kawasan ini menyumbang sekitar 50 persen dari pertumbuhan global.

"ASEAN menjadi kawasan yang menarik bagi investasi karena memiliki pasar yang besar, pertumbuhan permintaan energi yang kuat, serta kondisi yang relatif stabil. Dukungan regulator dan para pemangku kepentingan juga menjadi faktor penting dalam menjaga arus investasi ke kawasan ini," kata Oki.

Artikel terkait

Rekomendasi