Pemerintah tengah menyiapkan rencana pengembangan bioetanol E20 yang berdampak pada pergerakan harga ubi kayu, jagung, dan tebu. Tiga komoditas tersebut kini memiliki peran strategis sebagai bahan baku energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Permintaan terhadap ketiga komoditas ini diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan. Kondisi tersebut memicu fluktuasi harga yang mulai dipengaruhi oleh potensi kebutuhan sektor energi, melampaui ketergantungan pada sektor pangan konvensional.
Dilansir dari Suara, Pertamina bersama industri terkait sedang melakukan percepatan pengembangan bioetanol sebagai bagian dari transisi energi. Strategi ini mencakup pembangunan ekosistem dari sektor hulu hingga hilir secara terintegrasi.
Kerja sama dijalankan bersama sejumlah pihak seperti PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Medco Energi Internasional Tbk, serta Sinergi Gula Nusantara. Langkah konkret meliputi revitalisasi pabrik di Lampung dan pembangunan fasilitas baru di Sulawesi Selatan.
Memasuki April 2026, dinamika harga ubi kayu, jagung, dan tebu menunjukkan tren penguatan sejalan dengan arah kebijakan energi nasional. Berikut adalah rincian data harga yang tercatat di tingkat petani maupun industri.
Ubi kayu atau singkong saat ini berada pada kisaran harga Rp1.200 hingga Rp1.350 per kilogram di tingkat petani. Sementara itu, harga acuan pemerintah ditetapkan pada angka Rp1.350 per kilogram.
Pada tingkat konsumen, harga singkong tercatat lebih tinggi pada rentang Rp7.500 sampai Rp10.000 per kilogram. Harga ini sangat bergantung pada kualitas produk dan jalur distribusi yang digunakan.
Jagung pipilan di tingkat petani menunjukkan pergerakan harga yang relatif stabil namun tetap fluktuatif. Harga berada pada kisaran Rp4.500 hingga Rp5.500 per kilogram, dipengaruhi oleh kualitas dan kadar air hasil panen.
Komoditas tebu memegang peranan krusial melalui pemanfaatan tetes tebu atau molase. Di tingkat pabrik, harga tebu umumnya dipatok di atas Rp600.000 per ton sebagai bahan baku utama energi bersih.
Harga molase sendiri tercatat berada pada angka sekitar Rp1.000 per liter. Nilai ini sangat bergantung pada kondisi pasar gula global serta rendemen produksi yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan.
| Komoditas | Satuan | Rentang Harga (Rp) |
|---|---|---|
| Ubi Kayu (Petani) | Kilogram | 1.200 - 1.350 |
| Ubi Kayu (Konsumen) | Kilogram | 7.500 - 10.000 |
| Jagung Pipilan | Kilogram | 4.500 - 5.500 |
| Tebu (Pabrik) | Ton | > 600.000 |
| Molase (Tetes Tebu) | Liter | 1.000 |
Penguatan Regulasi dan Rantai Pasok Nasional
Pemerintah juga berupaya menyederhanakan berbagai regulasi guna mempercepat pertumbuhan industri bioetanol nasional. Fokus utamanya adalah menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan bagi para produsen.
Langkah ini bertujuan memberikan kepastian pasar sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Sektor pertanian diproyeksikan menjadi pilar utama dalam menopang kemandirian energi Indonesia di masa depan.
Produksi bioetanol nasional diperkirakan membutuhkan pasokan bahan baku mencapai jutaan kiloliter. Hal ini menempatkan ubi kayu, jagung, dan tebu sebagai komoditas yang semakin strategis dalam struktur ekonomi nasional.