Permintaan Kayu Bakar Percepat Kehilangan Hutan Afrika dan Asia

Permintaan Kayu Bakar Percepat Kehilangan Hutan Afrika dan Asia
Foto: Ilustrasi Permintaan Kayu Bakar Percepat Kehilangan Hutan Afrika dan Asia.

Tingginya permintaan kayu bakar dan perluasan lahan pertanian memicu hilangnya lebih dari 40 juta hektare hutan global pada periode 2015 hingga 2025. Data tersebut terungkap dalam Laporan Target Hutan Global 2026 yang diluncurkan pada sesi ke-21 Forum Hutan PBB, Selasa (12/5/2026).

Penyusutan luas hutan dunia tercatat merosot dari 4,18 miliar hektare menjadi 4,14 miliar hektare dalam satu dekade terakhir sebagaimana dilansir dari Lestari. Amerika Selatan memimpin angka penurunan tertinggi dengan 4,1 juta hektare per tahun, disusul Afrika yang kehilangan hampir 3 juta hektare setiap tahunnya.

Ketergantungan masyarakat di Afrika sub-Sahara dan sebagian wilayah Asia terhadap arang serta kayu mentah menjadi penyebab utama degradasi kualitas hutan. Kondisi ini diperparah oleh pertumbuhan populasi, keterbatasan akses energi bersih, serta tata kelola lahan yang masih lemah.

Sekretaris Jenderal PBB memberikan penekanan khusus terkait berbagai ancaman eksternal yang saat ini tengah mengepung keberadaan ekosistem hutan dunia.

"Permintaan akan kayu bakar adalah penggerak utama hilangnya dan rusaknya hutan," tulis laporan tersebut.

Ant├│nio Guterres memperingatkan bahwa stabilitas hutan kini berada dalam kondisi yang sangat rentan akibat perubahan iklim dan dinamika politik global.

"Hutan semakin terancam oleh penggundulan hutan, suhu yang meningkat, ketidakpastian ekonomi, dan perpecahan geopolitik," tulis Ant├│nio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB.

Meskipun terdapat upaya pemulihan, dunia tercatat kehilangan 16 juta hektare hutan primer selama sepuluh tahun terakhir. Wakil Sekretaris Jenderal Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB menilai diperlukan langkah yang jauh lebih masif daripada sekadar program rutin.

"Temuan ini mengingatkan kita bahwa untuk mencapai Target Hutan Global pada tahun 2030, kita butuh ambisi yang lebih besar, peningkatan dana yang signifikan, lembaga yang lebih kuat, serta komitmen politik yang berkelanjutan di semua sektor," kata Li Junhua, Wakil Sekretaris Jenderal Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB.

Hingga tahun 2025, tercatat 91 negara telah berkomitmen memulihkan 190 juta hektare lahan, namun baru 44 juta hektare yang terealisasi. Asia menunjukkan progres paling signifikan dengan keberhasilan memulihkan 31 juta hektare atau mencapai 42,2 persen dari total janji restorasi wilayah tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi