Nilai permintaan emas global mencatatkan lonjakan tajam sebesar 74 persen secara tahunan hingga mencapai rekor fantastis senilai US$193 miliar pada kuartal pertama tahun 2026. Laporan terbaru Gold Demand Trends Q1 2026 yang dirilis oleh World Gold Council (WGC) menyingkap bahwa volume permintaan dunia sebenarnya hanya tumbuh moderat sebesar 2 persen menjadi 1.231 ton.
Seperti dikutip dari Suara, pergerakan nilai yang luar biasa ini didorong oleh reli harga emas yang sempat melesat di atas US$5.400 per troy ons pada Januari lalu. Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik dan bayang-bayang inflasi global menjadi daya pikat kuat bagi investor ritel untuk mengamankan kekayaan mereka pada aset aman ini.
Secara global, akumulasi pembelian emas batangan dan koin melonjak hingga 42 persen menjadi 474 ton. Tiongkok memimpin tren ini dengan mencetak rekor sejarah lewat pembelian komoditas tersebut sebanyak 207 ton atau meningkat sebesar 67 persen.
Tren penguatan di tingkat global turut terduplikasi secara kuat di pasar domestik Indonesia. Minat masyarakat terhadap emas batangan dan koin di tanah air tumbuh pesat sebesar 47 persen secara tahunan.
Ketika pasar saham domestik mengalami koreksi mendalam hingga 13 persen pada kuartal pertama tahun 2026, harga emas dalam denominasi Rupiah justru bergerak perkasa dengan pertumbuhan sebesar 14 persen. Emas secara historis memang terbukti menjadi instrumen penyelamat daya beli masyarakat Indonesia saat terjadi krisis keuangan, seperti pada periode tahun 1997-1998.
WGC menyimpulkan bahwa dengan menyisihkan alokasi minimal 2,5 persen saja untuk instrumen emas dalam portofolio, investor di Indonesia dapat menekan risiko konsentrasi secara signifikan.
"Situasi geopolitik global terus mendorong investor menjadikan emas sebagai safe-haven. Di Indonesia, kepercayaan ini tidak hanya tercermin pada permintaan fisik, tetapi juga pada evolusi pasarnya," ujar Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks WGC, dalam media briefing pekan ini.
Pergeseran Konsumsi dan Ekosistem Finansial Baru
Lonjakan harga komoditas ini memicu perubahan perilaku konsumen yang signifikan di mana volume permintaan perhiasan global merosot 23 persen, sementara di Indonesia turun 20 persen. Konsumen kini cenderung beralih memilih emas batangan serta koin yang murni berfungsi sebagai instrumen investasi.
Di sisi lain, Indonesia sedang bersiap menyambut era baru Exchange-Traded Fund (ETF) Emas Fisik dan bullion banking. Akses investasi akan terbuka semakin lebar melalui peluncuran Bullion Ecosystem Development Roadmap 2026ÔÇô2031 serta regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Produk ETF emas fisik dinilai sangat potensial bagi pasar domestik karena sifatnya yang berwujud dan bebas bunga, sehingga selaras dengan prinsip keuangan Syariah.
Sektor publik juga ikut memperkuat cadangan mereka dengan bank sentral dunia yang menambah 244 ton emas ke cadangan global pada Q1 2026. Bank Indonesia turut berkontribusi dalam tren ini dengan memasukkan 2 ton emas ke dalam cadangan devisanya.
Dari sisi pasokan, total produksi tambang dunia berhasil mencetak rekor baru untuk kuartal pertama. Indonesia menjadi salah satu motor penggerak utama lewat lonjakan produksi tambang sebesar 19 persen yang didorong oleh pulihnya kapasitas operasional di tambang Batu Hijau pasca ekspansi fasilitas pengolahan.
Melihat volatilitas yang terus terjadi di pasar, Louise Street, Senior Markets Analyst WGC, memproyeksikan bahwa faktor ketidakpastian geopolitik akan tetap menjadi bahan bakar utama yang menjaga tren bullish permintaan emas ke depan.