Indef Menilai Perlambatan Simpanan Masyarakat Cerminkan Tekanan Daya Beli

Indef Menilai Perlambatan Simpanan Masyarakat Cerminkan Tekanan Daya Beli
Foto: Ilustrasi Indef Menilai Perlambatan Simpanan Masyarakat Cerminkan Tekanan Daya Beli.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai penurunan kecepatan pertumbuhan tabungan masyarakat mengindikasikan beban daya beli yang masih berat pada Selasa (19/5/2026), dilansir dari Keuangan.

Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor ekonomi seperti inflasi komoditas pangan hingga ketidakpastian pendapatan yang memaksa warga menggunakan dana simpanan demi kebutuhan harian.

ÔÇ£Ini mengindikasikan sebagian rumah tangga masih menggunakan tabungan untuk menopang konsumsi sehari-hari akibat kenaikan biaya hidup, pelemahan rupiah, tekanan harga pangan, cicilan, hingga ketidakpastian pendapatan,ÔÇØ ujar M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Rizal menjelaskan bahwa fenomena menghabiskan tabungan ini berjalan pada kelompok masyarakat yang kenaikan pengeluarannya lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan mereka.

"Kelompok kelas menengah saat ini berada dalam posisi paling rentan karena menghadapi tekanan biaya hidup sekaligus penurunan kemampuan menabung," katanya.

Dirinya memprediksi tekanan ini berpotensi berlanjut sepanjang 2026 jika stabilitas harga pokok belum tercapai dan suku bunga tetap tinggi.

"Bank perlu lebih adaptif melalui produk tabungan yang fleksibel, bunga yang kompetitif, digitalisasi layanan, hingga memperkuat edukasi pengelolaan keuangan masyarakat," ujarnya.

Pihak perbankan nasional membenarkan adanya tantangan pada penghimpunan dana di segmen masyarakat menengah ke bawah pada awal tahun ini.

"Hingga Maret 2026, simpanan ritel di segmen tersebut masih tumbuh di atas 3% secara year on year, meski pertumbuhannya melambat dibanding periode sebelumnya," ujar Mega Ekaputri Pujianto, Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk.

Namun, Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan simpanan akan membaik secara bertahap didukung oleh stabilisasi inflasi nasional.

"Fenomena makan tabungan masih ada pada sebagian kelompok, namun tekanannya berkurang. Secara umum sentimen nasabah saat ini lebih berhati-hati, tetapi mulai kembali menabung secara bertahap," ujar Rully Setiawan, Direktur Network and Retail Funding PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

BTN kini memperkuat sektor layanan digital serta ekosistem tabungan berbasis perumahan untuk mengantisipasi risiko tekanan finansial rumah tangga.

Artikel terkait

Rekomendasi