Peringkat Indonesia Turun di FDI Confidence Index 2026

Peringkat Indonesia Turun di FDI Confidence Index 2026
Foto: Ilustrasi Peringkat Indonesia Turun di FDI Confidence Index 2026.

Bisnis.com, JAKARTA ÔÇö Posisi Indonesia dalam peta investasi global menghadapi ujian baru setelah peringkatnya turun di tengah ketatnya persaingan negara Asia Tenggara, meski optimisme investor terhadap prospek domestik tetap tinggi.

Laporan Kearney FDI Confidence Index 2026 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-13 dalam kategori emerging market, turun satu posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi saat negara pesaing seperti Thailand dan Malaysia justru mencatat kenaikan peringkat seiring agresivitas menarik investasi bernilai tambah tinggi.

Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan kompetitif yang semakin kuat di kawasan, terutama ketika negara-negara Asia berlomba menarik relokasi rantai pasok global dan investasi di sektor strategis seperti semikonduktor, kendaraan listrik, dan energi hijau.

Di tengah tekanan itu, sentimen investor terhadap Indonesia masih relatif solid. Sebanyak 87% investor menyatakan tetap optimistis atau bahkan lebih optimistis terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi.

Optimisme tersebut terutama ditopang oleh besarnya pasar domestik dan ketersediaan tenaga kerja. Indonesia yang memiliki populasi hampir 288 juta jiwa dinilai menawarkan keunggulan demografis yang sulit ditandingi di kawasan.

Selain itu, kekayaan sumber daya alam, khususnya nikel, menjadi daya tarik utama. Pada 2025, sektor logam dasar mencatat realisasi investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) tertinggi sebesar US$14,6 miliar, disusul sektor pertambangan sebesar US$4,7 miliar.

Kinerja investasi domestik juga mencerminkan tren tersebut. Realisasi investasi pada kuartal I/2026 mencapai Rp498,79 triliun atau setara 100,36% dari target pemerintah, dengan pertumbuhan 7,22% secara tahunan. Komposisi antara FDI dan penanaman modal dalam negeri relatif seimbang.

Presiden Direktur Kearney Indonesia Shirley Santoso menyebut Indonesia perlu memperkuat kepastian regulasi, mendorong inovasi teknologi, serta mempercepat pembangunan infrastruktur agar potensi yang dimiliki dapat benar-benar diterjemahkan menjadi arus investasi yang konsisten.

Tekanan kompetisi kawasan dan tuntutan reformasi struktural ini menjadi penentu apakah momentum optimisme investor dapat dikonversi menjadi arus FDI yang berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.

ÔÇ£Untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tariknya, Indonesia perlu mencontoh negara-negara di sekitarnya seperti memperkuat kepastian regulasi, mempercepat upaya transisi energi, dan memperdalam kerja sama regional, sambil melanjutkan reformasi struktural untuk mengubah potensi negara menjadi kepercayaan investor yang konsisten; termasuk meningkatkan tata kelola yang transparan, teknologi dan inovasi, serta pembangunan infrastruktur,ÔÇØ jelasnya dalam keterangan, Jumat (1/5/2026).

Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa daya tarik Indonesia belum sepenuhnya ditopang oleh faktor struktural yang kuat. Aspek tata kelola dan transparansi masih menjadi pertimbangan paling rendah bagi investor dibandingkan faktor lain seperti tenaga kerja dan sumber daya alam.

Di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik dan persaingan kebijakan industri global turut membentuk ulang arah investasi. Sebanyak 84% investor menilai kebijakan industri menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi investasi, sementara hampir 90% melihat adanya risiko akibat kebijakan yang saling tumpang tindih antarnegara.

Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai berada di titik krusial. Upaya hilirisasi industri, reformasi regulasi, serta pemberian insentif investasi sudah berjalan, tetapi perlu dipercepat untuk menjaga daya saing di tengah agresivitas negara tetangga.

Artikel terkait

Rekomendasi