Penulis : Indah Handayani 13 Mei 2026 | 07:20 WIB
JAKARTA, investor.id ÔÇô Perdebatan soal masa depan Bitcoin (BTC) kembali memanas setelah pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio melontarkan kritik tajam terhadap Bitcoin sebagai aset safe haven.
Namun, kritik tersebut langsung dibalas oleh Chairman Strategy Michael Saylor yang justru semakin optimistis terhadap prospek Bitcoin.
Dikutip dari Cryptonews, Dalio menilai BTC masih gagal menjadi aset lindung nilai global karena memiliki tiga kelemahan utama.
Pertama, masalah privasi. Menurut Dalio, seluruh transaksi Bitcoin bersifat publik sehingga dapat dipantau bahkan berpotensi dikendalikan pemerintah. Kondisi ini dianggap membuat Bitcoin kurang ideal sebagai aset cadangan bank sentral.
Kedua, korelasi dengan saham teknologi. Bitcoin dinilai masih bergerak searah dengan saham-saham teknologi sehingga rentan dilepas investor saat pasar membutuhkan likuiditas.
Ketiga, ukuran pasar Bitcoin yang masih relatif kecil dibanding emas. Dalio menilai emas tetap jauh lebih kuat karena sudah tertanam dalam sistem keuangan global dan dimiliki banyak negara sebagai cadangan devisa.
Meski demikian, Michael Saylor langsung membantah pandangan tersebut. Menurut dia, transparansi Bitcoin justru menjadi keunggulan utama karena membuat aset digital tersebut dapat diverifikasi dan diaudit secara global tanpa bergantung pada pihak ketiga.
Saylor juga menyoroti rasio Sharpe Bitcoin yang dinilai mampu mengungguli emas dalam hal imbal hasil berbasis risiko.
Sementara itu, perusahaan layanan finansial kripto River menyebut Bitcoin memiliki keunggulan dibanding emas karena dapat digunakan langsung untuk pembayaran dan transfer lintas negara.
Menariknya, Dalio sebenarnya juga diketahui memiliki alokasi investasi Bitcoin sejak 2021 dan masih merekomendasikan kepemilikan aset kripto dalam porsi kecil hingga 2025.
Dalio bahkan menyebut Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang terhadap ketidakstabilan ekonomi global, meski tetap menganggap emas sebagai pilihan yang lebih baik.
Bitcoin Menuju US$ 85.000?
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Harga Bitcoin (BTC) Tumbang, Dihantam Inflasi AS
Heboh Whale Bitcoin (BTC) Bangun dari Tidur 12 Tahun, Pindahkan Aset Raksasa
Batas Atas Harga Bitcoin (BTC) Berikutnya
Bitcoin (BTC) Lampaui US$ 82.000 Usai Trump Tolak Usulan Damai Iran
The Fed Berpotensi Tahan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Bitcoin (BTC)
Market 4 menit yang lalu Harga Emas Hari Ini, Rabu 13 Mei 2026, di BSI, HRTA, Lotus Archi & Minigold Simak harga emas di BSI, HRTA (Emasku & EmasKita), Lotus Archi, dan Minigold pada hari ini, Rabu 13 Mei 2026
Market 5 menit yang lalu Saham BBRI Dihantam Badai Asing bermanuver dengan melakukan aksi jual di saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Business 26 menit yang lalu Cluster Rinoka Jadi Andalan Baru Summarecon Mutiara Makassar Summarecon Mutiara Makassar perkenalkan Cluster Rinoka, hunian klasik Prancis dengan harga mulai Rp 1,9 miliar
Business 35 menit yang lalu Indonesia Pimpin Pertumbuhan Pusat Data di Asean Pada periode 2024-2025, jumlah total pusat data tumbuh dari 52 menjadi 58, sementara basis operator meningkat dari 28 menjadi 31.
Market 44 menit yang lalu Sentimen MSCI dan Inflasi AS Jadi Biang Kerok IHSG Rontok IHSG hari ini anjlok dipicu inflasi AS, rebalancing MSCI, dan pelemahan rupiah, Pilarmas rekomendasikan saham RAJA untuk sesi II
Tag Terpopuler
Terpopuler
Di tengah perdebatan tersebut, harga Bitcoin masih bergerak dalam fase pemulihan.
Bitcoin tercatat berada di level US$ 80.857 setelah sebelumnya sempat anjlok hampir 50% dari puncak US$ 126.000 pada Januari 2025 ke level US$ 61.000 pada Februari.
Sejak menyentuh titik terendah tersebut, Bitcoin perlahan pulih dan kembali menembus area psikologis US$ 80.000.
Analis menilai area US$ 80.000 hingga US$ 84.000 menjadi zona krusial bagi pergerakan Bitcoin selanjutnya.
Jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas US$ 84.000, peluang kenaikan menuju US$ 90.000 hingga kembali menguji level psikologis US$ 100.000 semakin terbuka.
Namun, jika gagal menembus area tersebut, Bitcoin berisiko kembali turun ke kisaran US$ 72.000 hingga US$ 75.000 yang sebelumnya menjadi area konsolidasi utama selama fase pemulihan.