Sektor Perbankan Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah ke Level Ekstrem

Sektor Perbankan Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah ke Level Ekstrem
Foto: Ilustrasi Sektor Perbankan Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah ke Level Ekstrem.

Industri perbankan nasional mulai mewaspadai potensi risiko terhadap kualitas kredit dan likuiditas akibat tren pelemahan nilai tukar rupiah yang ditutup pada level Rp 17.387 per dollar AS pada Rabu (6/5/2026). Penurunan sebesar 3,96 persen sejak awal tahun ini diprediksi memberikan tekanan bertahap pada sektor keuangan.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa pelemahan mata uang Garuda ini akan memengaruhi bank melalui eksposur valuta asing, kondisi debitur, serta struktur pendanaan. Menurut data Bloomberg yang dilansir dari Money, tekanan pada korporasi yang memiliki utang valas akan menggeser risiko ke kualitas kredit bank.

"Sektor yang bergantung pada impor paling rentan. Di titik ini, risiko mulai bergeser dari neraca bank ke kualitas kredit," jelas Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Kenaikan suku bunga dan biaya dana otomatis akan menekan margin keuntungan jika depresiasi kurs terus berlanjut dalam jangka panjang. Yusuf menambahkan bahwa skenario terburuk dapat terjadi jika nilai tukar terus merosot menjauhi nilai fundamentalnya.

"Misalnya kalau rupiah benar-benar mendekati Rp 20.000 per dollar AS," kata Yusuf.

Menanggapi situasi pasar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) telah melakukan pengujian ketahanan dengan skenario nilai tukar di atas Rp 20.000 per dollar AS. Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengungkapkan proyeksi kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) dan tekanan pada margin bunga bersih dalam kondisi tersebut.

"Yang penting, permodalan kami diproyeksikan tetap berada di atas ketentuan minimum regulator dan likuiditas masih cukup untuk menjalankan operasional bank," imbuh Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.

Langkah serupa diambil oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) yang fokus pada pemantauan daya beli masyarakat dan sektor usaha sensitif kurs. Direktur Pengelolaan Risiko BTN, Setiyo Wibowo, menyatakan pihaknya mengandalkan sistem peringatan dini untuk menjaga kualitas portofolio.

"Kami juga menerapkan early warning system untuk mendeteksi potensi pemburukan kualitas kredit lebih dini," kata Setiyo Wibowo, Direktur Pengelolaan Risiko BTN.

Kinerja Keuangan BNI Kuartal I-2026
Indikator KeuanganPosisi Kuartal I-2026Proyeksi Skenario Ekstrem
Non Performing Loan (NPL)1,9%Naik ~1,6%
Cost of Credit (CoC)1,1%Naik ~1,1%
Net Interest Margin (NIM)3,6%Turun ke level 3%

Artikel terkait

Rekomendasi