Harga bahan bakar di Amerika Serikat mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan biaya energi di Negeri Paman Sam.
Kenaikan harga ini tetap terjadi meskipun Amerika Serikat saat ini tidak memiliki ketergantungan besar pada impor minyak dari kawasan tersebut. Namun, sistem pasar minyak dunia yang terintegrasi menyebabkan setiap gangguan pasokan global memberikan dampak langsung pada harga domestik.
Dikutip dari Money, laporan Associated Press pada Jumat (8/5/2026) menunjukkan harga bensin di AS telah melambung sekitar 52 persen jika dibandingkan dengan periode sebelum pecahnya perang Iran. Kekhawatiran akan macetnya distribusi melalui Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah sebagai bahan baku bensin.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, di mana sekitar seperlima aliran minyak dunia melintasi wilayah sempit ini. Kondisi perang menyebabkan banyak kapal tanker tertahan, sehingga mengganggu suplai global secara sistematis.
Laporan USA Today menyebutkan bahwa dimulainya serangan udara AS terhadap Iran segera memicu reaksi instan di pasar global. Harga acuan West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik drastis dari posisi 67 dollar AS per barrel pada akhir Februari menjadi 105 dollar AS per barrel pada akhir Maret 2026.
Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi penutupan jalur pelayaran, tingginya risiko pengiriman, serta kerusakan nyata pada infrastruktur energi. Krisis ini mengancam ketersediaan energi bagi wilayah yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, seperti sebagian Eropa dan Asia.
Sempat muncul harapan saat harga bensin di AS turun selama dua pekan pada pertengahan April 2026 karena isu gencatan senjata. Optimisme ini sempat menekan harga spot bensin karena pelaku pasar mengira konflik akan segera berakhir.
"Setelah pengumuman gencatan senjata awal, muncul semacam optimisme bahwa ini benar-benar bisa menjadi awal dari akhir konflik," kata Direktur Global Fuel Retail S&P Global Energy Rob Smith.
"Maka harga minyak mentah pun turun, harga bensin spot pun ikut turun, dan seterusnya dan para pengecer juga menurunkan harga," lanjut dia.
Namun, ketegangan yang kembali memanas antara Washington dan Teheran menghapus harapan tersebut. Rob Smith menekankan bahwa selama hambatan di Selat Hormuz masih terjadi, tekanan kenaikan harga akan terus berlangsung setiap hari.
Ketergantungan pada Mekanisme Pasar Dunia
Meskipun Amerika Serikat mampu memproduksi lebih dari 13 juta barrel minyak mentah per hari, negara ini tetap tidak kebal terhadap gejolak harga. Sebagai produsen sekaligus konsumen terbesar, AS tetap harus mengimpor sekitar 6 juta barrel per hari untuk memenuhi permintaan domestik.
Kepala Ekonom MoodyÔÇÖs Analytics, Mark Zandi, menjelaskan bahwa minyak selalu mengalir ke wilayah yang menawarkan harga tertinggi karena mekanisme pasar bebas. Hal inilah yang menyebabkan produsen domestik tetap mengikuti tren harga internasional.
"Ini adalah pasar global," jelas Mark Zandi.
"Jadi, minyak benar-benar mengalir ke tempat dengan harga tertinggi. Jika sebuah kapal tanker bisa mendapatkan harga lebih tinggi di Malaysia daripada di Rotterdam, dan lebih tinggi lagi di Rio de Janeiro, maka kapal itu akan pergi ke Malaysia," lanjut dia.
Zandi menambahkan bahwa perusahaan energi di AS beroperasi sebagai entitas bisnis yang mencari keuntungan maksimal. Oleh karena itu, pasokan domestik pun akan dijual mengikuti harga pasar tertinggi yang tersedia di level global.
"Kita memproduksi sebanyak yang kita konsumsi," tutur Zandi.
"Namun pada akhirnya, para produsen di sini akan menjual kepada siapa pun yang dapat memberi mereka harga tertinggi. Mereka adalah pebisnis," ujar dia.
Senada dengan hal tersebut, James Cox dari Harris Financial Group menyatakan bahwa seluruh negara di dunia pada dasarnya memperebutkan pasokan minyak yang sama tanpa memandang lokasi produksinya.
"Semua orang bersaing memperebutkan barrel minyak yang sama," kata Cox.
"Tidak masalah apakah itu diproduksi di Texas, Iran, Arab Saudi, atau Rusia," lanjut dia.
Komponen Pembentuk Harga di SPBU
Data dari Energy Information Administration (EIA) mengungkapkan bahwa sekitar 51 persen harga bensin di tingkat konsumen dipengaruhi oleh harga minyak mentah. Maka, pergerakan kurva harga bensin hampir selalu selaras dengan pergerakan harga minyak dunia.
Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran selama perang tercatat sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. International Energy Agency (IEA) mencatat harga sempat menyentuh 112 dollar AS per barrel pada awal April sebelum sedikit melandai di bawah 100 dollar AS.
Peneliti senior Columbia University, Bob Kleinberg, menilai pola kenaikan harga bensin di AS sangat identik dengan lonjakan harga minyak acuan WTI tanpa adanya penundaan waktu yang lama.
"Tidak ada misteri besar di sini," ucap Kleinberg.
"Bentuk kurvanya memang tidak sepenuhnya proporsional, tetapi mengikuti pola yang sama, dan benar-benar dengan sedikit sekali penundaan," ujar dia.
Struktur harga bensin di AS juga mencakup pajak federal dan negara bagian sebesar 17 persen, serta biaya pengolahan kilang dan pemasaran. Di California, harga bensin mencapai 5,93 dollar AS per galon karena faktor geografis dan pajak yang lebih tinggi.
Dampak Kebijakan dan Proyeksi Mendatang
Kebijakan blokade pelabuhan Iran oleh AS pada April 2026 turut memperparah situasi. Peneliti dari Baker Institute, Jim Krane, menyebutkan bahwa tindakan untuk menghukum Iran justru memberikan tekanan balik terhadap harga minyak global.
"Iran telah mengirimkan minyak dalam jumlah yang luar biasa tinggi ke pasar global, sehingga hal itu membantu menekan harga," kata Krane.
"Pemerintahan Trump memutuskan untuk menghukum Iran, dan mencoba memberikan tekanan lebih pada Iran dengan memblokir ekspor mereka, jadi tentu saja itu memberikan tekanan pada Iran, tetapi juga memberikan tekanan pada harga minyak global dan memaksanya naik. Itu mungkin merupakan faktor besar," lanjut dia.
Pasar minyak kini menjadi sangat reaktif terhadap setiap perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan Teluk. Lonjakan mingguan tertinggi bahkan sempat mencatat kenaikan 48 sen hanya dalam tujuh hari saat perang pertama kali pecah.
Para analis memprediksi tidak ada solusi instan untuk menstabilkan harga dalam waktu dekat. Pemulihan jalur perdagangan di Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan setelah konflik dinyatakan berakhir secara resmi.