Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan penurunan signifikan jumlah rukun warga (RW) kumuh di Jakarta berkat kontribusi aktif para kader perempuan di lapangan pada Kamis (7/5/2026). Penurunan tersebut tercatat mencapai 52,58 persen dibandingkan data tahun 2017.
Berdasarkan data yang dilansir dari Megapolitan, jumlah RW kumuh di wilayah ibu kota kini tersisa 211 unit. Angka ini mengalami penyusutan drastis dari posisi sebelumnya yang mencapai 445 RW kumuh pada sembilan tahun silam.
Pramono Anung menegaskan bahwa keberhasilan penataan lingkungan ini mustahil terwujud tanpa peran serta para penggerak di tingkat akar rumput. Ia menunjuk kader PKK, Dasawisma, hingga Juru Pemantau Jentik (Jumantik) sebagai aktor utama di balik capaian tersebut.
ÔÇ£Prestasi itu tidak mungkin tanpa perempuan-perempuan hebat di lapangan. Di antaranya adalah PKK, Dasawisma, Jumantik, dan sebagainya yang ada di lapangan. Karena merekalah yang secara langsung berinteraksi untuk itu,ÔÇØ kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Gubernur menilai keterlibatan perempuan tidak hanya krusial di level lapangan, tetapi juga dalam struktur birokrasi pemerintahan. Saat ini, komposisi jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah banyak diamanahkan kepada kaum perempuan.
ÔÇ£Bahkan beberapa kepala yang sangat strategis, yang bertanggung jawab terhadap banjir pun (Kepala Dinas SDA) perempuan. Bappeda, Bapenda, dan sebagainya perempuan,ÔÇØ kata dia.
Komitmen untuk memperkuat kesetaraan gender terus didorong melalui pemberian ruang bagi perempuan di sektor-sektor strategis. Hal ini dimaksudkan agar kebijakan pembangunan Jakarta ke depan semakin inklusif dan implementatif.
ÔÇ£Saya memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk kesetaraan di Jakarta. Bukan hanya sekadar jargon, tetapi implementasinya itu terlihat dari hampir seperti yang saya katakan tadi, separuh dari OPD, lebih, di Jakarta ini perempuan,ÔÇØ ucap Pramono.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa penurunan 234 unit RW kumuh tersebut merupakan progres berkelanjutan. Secara statistik, persentase penurunan ini memberikan dampak langsung pada kualitas hidup warga di berbagai wilayah administratif.
ÔÇ£Jadi, ada penurunan RW kumuh dari 445 di tahun 2017 menjadi 211 di tahun ini. Penurunannya kurang lebih 52,58 persen,ÔÇØ kata Pramono.
Hingga saat ini, wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat masih teridentifikasi sebagai daerah dengan sebaran RW kumuh terbanyak. Pemprov DKI Jakarta berencana terus mengoptimalkan peran kader perempuan untuk menuntaskan penataan di sisa wilayah tersebut.