Penurunan cadangan minyak global terjadi dengan kecepatan tertinggi dalam sejarah akibat disrupsi pasokan di Timur Tengah yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap melambungnya harga bahan bakar minyak menjelang puncak konsumsi musim panas, sebagaimana dilansir dari Money pada Minggu (17/5/2026).
Badan Energi Internasional (IEA) memberikan peringatan bahwa persediaan minyak bumi global berisiko menyentuh ambang batas kritis jika jalur pelayaran utama tersebut tidak segera beroperasi normal. Berdasarkan data bank Swiss UBS, stok minyak komersial dunia telah merosot dari kisaran 8 miliar barrel pada akhir Februari 2026 menjadi 7,8 miliar barrel pada akhir April 2026, dan diprediksi mendekati rekor terendah 7,6 miliar barrel pada akhir Mei 2026.
ÔÇ£Penyusutan cepat cadangan di tengah gangguan yang terus berlanjut, dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa mendatang,ÔÇØ tulis IEA dalam laporan pembaruan bulanannya.
Kondisi pasar saat ini dinilai belum sepenuhnya merefleksikan dampak nyata dari penutupan jalur distribusi karena peredaran pasokan masih ditopang oleh cadangan strategis milik pemerintah dan industri.
ÔÇ£Kami memperkirakan jika hal itu terjadi dan selat tetap tertutup, kita akan terus melihat kenaikan harga di pasar,ÔÇØ terang Woods, CEO Exxon Mobil, Darren Woods.
Analisis dari JPMorgan menunjukkan dari miliaran barrel cadangan yang ada, hanya sekitar 800 juta barrel yang benar-benar siap dikonsumsi tanpa mengganggu stabilitas operasional pipa sirkulasi dan tangki penyimpanan minimum.
ÔÇ£Seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, masalahnya adalah sirkulasi,ÔÇØ tutur Kaneva, Kepala strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva.
Ketiadaan volume kerja yang memadai pada jaringan distribusi ini berpotensi menghentikan fungsi sistem energi secara keseluruhan.
ÔÇ£Sistem ini tidak gagal karena minyak menghilang, tetapi gagal karena jaringan sirkulasi tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup,ÔÇØ lanjut Kaneva.
Penurunan persediaan diproyeksikan dapat menyentuh angka kritis sebesar 6,8 miliar barrel pada September 2026 jika pemblokiran Selat Hormuz terus bertahan. Di sisi lain, Rapidan Energy memprediksi kelangkaan produk bahan bakar dapat melanda lebih awal pada Juli atau Agustus 2026 yang berisiko melumpuhkan moda transportasi utama.
ÔÇ£Ekonomi global akan lumpuh, dengan infrastruktur transportasi penting yang tidak dapat memperoleh bahan bakar dengan harga berapa pun,ÔÇØ tulis analis Rapidan Energy.
Kendati demikian, lonjakan harga yang mendahului titik kritis diperkirakan akan menekan permintaan pasar dan memicu perlambatan ekonomi global secara tajam.
ÔÇ£Kemungkinan besar itu akan terjadi sebelum kuartal III 2026,ÔÇØ tulis analis Rapidan Energy.