PBB Selidiki Penyebab Delapan Prajurit TNI Jadi Korban di Lebanon

PBB Selidiki Penyebab Delapan Prajurit TNI Jadi Korban di Lebanon
Foto: Ilustrasi PBB Selidiki Penyebab Delapan Prajurit TNI Jadi Korban di Lebanon.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan delapan prajurit TNI yang bertugas dalam misi UNIFIL menjadi korban akibat eskalasi konflik di Lebanon pada Maret 2026. Penyelidikan awal menunjukkan adanya serangan proyektil dan ledakan bom yang menyasar pasukan penjaga perdamaian di wilayah operasi tersebut.

Situasi keamanan di area penugasan memburuk secara signifikan dengan jatuhnya korban jiwa dalam dua insiden berbeda. Dilansir dari Nasional, Kementerian Pertahanan RI mencatat satu prajurit gugur pada 29 Maret 2026, disusul insiden di Lebanon Selatan pada 30 Maret 2026 yang menewaskan dua personel tambahan.

Juru bicara PBB memberikan keterangan resmi mengenai jenis senjata yang menyebabkan kematian para personel penjaga perdamaian tersebut. Berdasarkan bukti fisik, serangan berasal dari proyektil tank militer serta penggunaan alat peledak rakitan di jalur operasional.

"Ini adalah temuan awal yang didasarkan pada bukti fisik awal," kata Stephane Dujarric, juru bicara PBB.

Pihak internasional sedang mempertimbangkan status hukum atas serangan ini karena pasukan PBB memiliki perlindungan khusus. PBB mendesak adanya pengusilan hukum lebih lanjut terhadap pihak yang bertanggung jawab atas serangan mematikan ini.

"Ini adalah temuan awal yang didasarkan pada bukti fisik awal," kata Stephane Dujarric, juru bicara PBB.

Ketegangan terus meningkat bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata, yang terbukti dengan tewasnya Sersan Staf Florian Montorio dari unit Perancis pada Sabtu, 18 April 2026. Presiden Perancis menyatakan indikasi keterlibatan kelompok bersenjata dalam penyergapan unit tersebut.

"Semuanya mengarah pada Hizbullah yang bertanggung jawab atas serangan ini," tulis Macron di X.

Pemerintah Perancis memberikan detail mengenai kronologi penyergapan yang terjadi saat unit militer mereka sedang melakukan mobilisasi menuju pos terdepan. Serangan dilaporkan terjadi dalam jarak yang sangat dekat saat akses wilayah sedang terputus.

"Penyergapan dilakukan oleh kelompok bersenjata dari jarak yang sangat dekat," kata Vautrin, Menteri Angkatan Bersenjata Perancis.

Menteri Luar Negeri Indonesia memberikan respons tegas saat menghadiri upacara pelepasan jenazah di Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu malam, 4 April 2026. Pemerintah menuntut evaluasi total terhadap sistem keamanan prajurit di medan tugas.

"Kita menuntut supaya dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian," kata Sugiono, Menteri Luar Negeri.

Sugiono menegaskan bahwa fungsi utama pasukan UNIFIL bukan untuk bertempur secara ofensif melainkan menjaga stabilitas. Penekanan diberikan pada keterbatasan perlengkapan tempur yang dimiliki oleh pasukan perdamaian.

"They are peace keeping, not peace making. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peace making ini," kata Sugiono.

Hingga saat ini, pihak UNIFIL masih melanjutkan investigasi mendalam untuk memastikan pelaku utama di balik rentetan serangan yang menyasar markas dan patroli penjaga perdamaian.

Artikel terkait

Rekomendasi