Kementan Ungkap Penyebab Rendahnya Produktivitas Tebu Nasional

Kementan Ungkap Penyebab Rendahnya Produktivitas Tebu Nasional
Foto: Ilustrasi Kementan Ungkap Penyebab Rendahnya Produktivitas Tebu Nasional.

Kementerian Pertanian mengidentifikasi sejumlah kendala utama yang menyebabkan rata-rata produksi gula nasional saat ini hanya mencapai 4,74 ton per hektar pada Minggu (19/4/2026). Angka tersebut dinilai jauh di bawah capaian historis akibat faktor teknis di perkebunan dan infrastruktur pengolahan.

Hambatan tersebut mencakup kondisi kebun tebu yang menua, sulitnya akses bibit unggul, hingga minimnya infrastruktur irigasi dan permodalan bagi petani. Pemerintah mencatat kinerja sektor ini belum maksimal meski revitalisasi pabrik terus dilakukan melalui penyuntikan modal negara, sebagaimana dilansir dari Money.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, menjelaskan bahwa efisiensi di sisi hilir sangat bergantung pada kualitas pasokan bahan baku dari hulu.

ÔÇ£Di sisi hilir, banyak pabrik gula berusia tua dengan rendemen rendah, sehingga meski revitalisasi pabrik terus digencarkan melalui suntikan modal negara, peningkatan kinerja belum maksimal tanpa pasokan tebu berkualitas,ÔÇØ kata Kuntoro dalam keterangan resmi.

Wamenperin Faisol Riza memaparkan tiga kendala krusial, di antaranya terkait spesifikasi pabrik gula rafinasi yang pada awalnya tidak dirancang untuk mengolah tebu secara langsung.

ÔÇ£Perubahan bahan baku dari gula kristal mentah ke tebu membutuhkan investasi baru, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan tebu serta penyesuaian lini produksi yang selama ini tidak dipersiapkan untuk operasi berbasis tebu,ÔÇØ jelas Faisol.

Selain masalah teknologi pabrik, lokasi pabrik rafinasi yang berada di dekat pelabuhan seperti di Banten menyulitkan ketersediaan lahan tebu. Faisol juga menyoroti masalah logistik karena jarak antara perkebunan dan pabrik dapat menurunkan kadar rendemen.

ÔÇ£Dari aspek logistik, tebu harus segera digiling untuk menjaga rendemen tetap optimal,ÔÇØ pungkas Faisol.

Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Yuvensius Sri Susilo, turut menyoroti kualitas gula produksi BUMN pangan yang dinilai kurang optimal dibandingkan milik swasta.

ÔÇ£Itu terjadi karena faktor pabrik gula mesinnya sudah tua, sehingga kualitas produk gula tidak optimal juga berwarna putih kusam atau kuning. Di sisi lain, gula pabrik swasta warna lebih putih,ÔÇØ jelas Sri Susilo.

Pakar tersebut menyarankan adanya modernisasi mesin giling dan restrukturisasi manajemen untuk mengejar target swasembada. Penegasan mengenai pentingnya efisiensi juga disampaikan oleh pengamat pertanian IPB, Purwono MS.

ÔÇ£Untuk swasembada Gula Kristal Putih relatif lebih pasti karena areal pertanaman dan pabrik gulanya sudah ada,ÔÇØ jelas Purwono.

Purwono menekankan perlunya peta jalan yang lebih konkret untuk jenis gula rafinasi guna menekan biaya produksi yang tinggi.

ÔÇ£Tapi untuk swasembada Gula Kristal Rafinasi belum ada roadmap yang jelas. Rencana pembangunan pabrik gula dan kebun belum ada yang jadi,ÔÇØ lanjut Purwono.

Pemerintah kini menargetkan produksi gula konsumsi sebesar 3 juta ton pada 2026 melalui konsolidasi 36 pabrik gula di bawah ID Food dan PT Sinergi Gula Nusantara. Langkah strategis lain mencakup pembukaan 200.000 hektar lahan baru dan penetapan harga acuan produsen sebesar Rp 14.500 per kilogram.

Artikel terkait

Rekomendasi