Kementan Ungkap Penyebab Harga Telur Ayam Anjlok di Tingkat Peternak

Kementan Ungkap Penyebab Harga Telur Ayam Anjlok di Tingkat Peternak
Foto: Ilustrasi Kementan Ungkap Penyebab Harga Telur Ayam Anjlok di Tingkat Peternak.

Kementerian Pertanian mengidentifikasi lonjakan populasi ayam petelur hingga 30 persen sebagai pemicu utama merosotnya harga telur di tingkat peternak pada Selasa (12/5/2026). Fenomena ini diperparah oleh kompetisi harga antar pelaku usaha di pusat produksi wilayah Pulau Jawa demi mempercepat penjualan stok.

Data proyeksi produksi telur nasional pada 2026 diperkirakan menyentuh angka 7,3 juta ton per tahun, sebagaimana dilansir dari Ekonomi. Jumlah tersebut melampaui kebutuhan nasional yang berada di kisaran 6 juta ton lebih, sehingga tercipta surplus sekitar 800.000 ton atau setara 13 persen.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan perlunya langkah cepat untuk mendorong harga on farm mendekati harga acuan pemerintah. Saat ini, konsentrasi produksi sebesar 63 persen menumpuk di Pulau Jawa, sementara wilayah Papua dan Maluku masih kekurangan pasokan.

"Kami meminta besok sudah ada pergerakan harga telur di tingkat peternak agar meningkat menuju harga acuan pembelian yang ditetapkan pemerintah," kata Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.

Peningkatan populasi ayam ini dipicu oleh tingginya minat peternak membangun kandang baru guna menyambut Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Agung mengamati bahwa keberadaan satuan pelayanan pemenuhan gizi menjadi daya tarik signifikan bagi para pelaku usaha peternakan.

"Minat peternak untuk menambah kandang cukup tinggi karena ada MBG. Itu menjadi daya tarik tersendiri," kata Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.

Lemahnya konsolidasi harga disebut sebagai kendala utama karena peternak cenderung melakukan aksi banting harga agar komoditas harian ini tidak menumpuk. Situasi tersebut diduga dimanfaatkan oleh pedagang perantara untuk memperoleh harga murah di saat harga konsumen tetap stabil tinggi.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Herry Dermawan, menyatakan bahwa realitas harga saat ini tidak wajar bagi keberlangsungan usaha. Di tingkat peternak, harga hanya berkisar Rp21.000 per kilogram, padahal biaya produksi telah mencapai Rp24.000 per kilogram.

"Siapa yang menikmati Rp8.000 [selisih Rp21.000 ke Rp29.000] itu? Harga sekarang ini bukan harga asli," kata Herry Dermawan, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan).

Sebagai informasi, Pemerintah telah menetapkan batas maksimal Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen sebesar Rp26.500 per kilogram. Untuk menyeimbangkan pasar, Kementan berencana mendistribusikan surplus telur dari Pulau Jawa ke daerah yang mengalami defisit produksi melalui jaringan koperasi dan asosiasi.

Artikel terkait

Rekomendasi